MURIANETWORK.COM - Permintaan emas global mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada tahun 2025, menembus angka 5.002 ton. Laporan terbaru World Gold Council (WGC) mengungkapkan, rekor ini terutama didorong oleh lonjakan luar biasa permintaan untuk investasi, sebagai respons atas ketidakpastian geopolitik dan gejolak ekonomi yang masih membayangi pasar dunia.
Investasi Jadi Penggerak Utama
Kinerja emas sepanjang tahun lalu benar-benar ditopang oleh sektor investasi, yang juga mencatat level bersejarah sebesar 2.175 ton. Minat investor global terhadap emas sebagai safe haven terlihat jelas dari arus masuk besar-besaran ke dalam exchange-traded fund (ETF) emas, yang mencapai 801 ton. Tidak hanya itu, pembelian emas dalam bentuk fisik batangan dan koin juga melonjak signifikan menjadi 1.374 ton, senilai sekitar USD154 miliar.
China dan India muncul sebagai kekuatan utama di balik tren ini, dengan pertumbuhan tahunan masing-masing 28 persen dan 17 persen. Kontribusi kedua raksasa ekonomi ini menyumbang lebih dari separuh total permintaan global untuk emas batangan dan koin.
Dinamika Pasar Emas Indonesia
Di dalam negeri, pola serupa teramati meski dengan skala yang berbeda. Secara total, permintaan emas konsumen Indonesia tercatat 48,2 ton, tumbuh 2 persen secara tahunan. Yang menarik, terjadi pergeseran pola konsumsi yang cukup jelas. Permintaan untuk emas perhiasan justru menyusut 27 persen menjadi 16,6 ton, diduga karena tekanan harga tinggi dan daya beli.
Sebaliknya, minat terhadap emas sebagai instrumen investasi melesat. Permintaan emas batangan dan koin di Indonesia melonjak 29 persen menjadi 31,6 ton. Lonjakan ini didorong oleh kebutuhan masyarakat untuk melindungi nilai kekayaan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, ketidakpastian ekonomi, serta kurang menariknya alternatif investasi lain selama periode volatilitas.
Ketahanan di Balik Penurunan Volume
Secara global, meski volume permintaan perhiasan turun 18 persen akibat harga yang melambung, daya tarik emas sesungguhnya tidak pudar. Nilai total belanja perhiasan emas dunia justru naik 18 persen menjadi USD172 miliar, menunjukkan ketahanan minat konsumen dalam jangka panjang.
Di Indonesia, adaptasi konsumen tampak dari perubahan preferensi. Untuk menjaga keterjangkauan, banyak yang beralih ke perhiasan dengan kadar emas lebih rendah, di bawah 14 karat. Strategi ini membuat total pengeluaran untuk perhiasan justru naik 5 persen secara tahunan, meski volume yang dibeli berkurang.
Emas Sebagai Agunan: Strategi Baru Kepemilikan
Yang patut dicermati adalah perubahan perilaku konsumen Indonesia dalam memandang kepemilikan emas. Alih-alih menjual saat harga mencapai puncak, banyak yang justru memanfaatkan emas yang mereka miliki sebagai agunan atau jaminan untuk mendapatkan pinjaman tunai melalui mekanisme gadai.
Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific (ex-China) sekaligus Global Head of Central Banks World Gold Council, memberikan analisisnya terhadap fenomena ini. "Perilaku ini memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat dari kenaikan harga sambil tetap mempertahankan kepemilikan emas," jelasnya.
Ia menambahkan, "Ini menegaskan peran emas sebagai aset finansial yang diandalkan rumah tangga Indonesia."
Pasokan Global dan Outlook ke Depan
Di sisi pasokan, produksi tambang emas global juga meningkat menjadi 3.672 ton. Sementara itu, pasokan dari daur ulang hanya naik moderat sebesar 3 persen. Data ini mengindikasikan bahwa meski harga tinggi, baik investor maupun rumah tangga lebih memilih untuk menahan (hold) emas mereka, sebuah sinyal kepercayaan kuat terhadap nilai jangka panjang logam mulia ini.
Di Indonesia, emas tidak hanya dipandang sebagai instrumen finansial, tetapi juga aset budaya yang mengakar kuat. Kombinasi ini, ditambah dengan momentum seperti penerimaan Tunjangan Hari Raya (THR) dan tradisi memberi hadiah saat Idulfitri, terus mendorong permintaan yang konsisten.
Menyimpulkan kondisi tahun 2025, Louise Street, Senior Markets Analyst World Gold Council, menyatakan, “Meski investasi menjadi pendorong utama, segmen perhiasan tetap menunjukkan ketahanan, bahkan di tengah kenaikan harga emas hingga 67 persen. Di saat yang sama, bank sentral juga tetap berkomitmen memperkuat cadangan emas mereka.”
Ungkapan tersebut menegaskan bahwa dalam iklim new normal yang penuh risiko, emas terus membuktikan perannya ganda: sebagai penjaga nilai yang tangguh dan bagian tak terpisahkan dari tradisi.
Artikel Terkait
Bundamedik (BMHS) Targetkan Pertumbuhan Dua Digit pada 2026
NPGF Dapat Kredit Rp54,02 Miliar dari Bank Sinarmas untuk Modal Kerja
Jinlong Resources Mulai Tender Wajib atas Saham Hotel Fitra International
Analis: Kehadiran Danantara di Pasar Modal Berlandaskan Hukum, OJK Kunci Pengawasan