MURIANETWORK.COM - Ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,11 persen pada tahun 2025, mengukuhkan daya tahan di tengah gejolak pasar global. Angka ini, meski sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,2 persen, menunjukkan akselerasi dari capaian 2024 dan menjadi yang tertinggi sejak 2022. Kinerja ini didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tangguh dan investasi yang terus menguat, meski dihadapkan pada tantangan eksternal dan revisi outlook dari lembaga pemeringkat kredit.
Motor Pertumbuhan: Konsumsi dan Investasi
Laporan riset terbaru mengungkap, akselerasi pertumbuhan ekonomi tahun lalu terutama ditopang oleh dua pilar utama. Di satu sisi, konsumsi rumah tangga tetap resilien dengan tumbuh 4,98 persen, didukung stimulus pemerintah dan tren penurunan suku bunga yang mendorong daya beli. Di sisi lain, investasi tetap menunjukkan performa solid dengan pertumbuhan 5,09 persen, mencerminkan kepercayaan pelaku usaha untuk melanjutkan ekspansi meski dalam situasi yang tidak sepenuhnya kondusif.
Dinamika Perdagangan yang Berbeda Arah
Sektor perdagangan luar negeri menampilkan dinamika yang menarik. Di tengah penerapan tarif baru oleh Amerika Serikat, ekspor Indonesia justru menunjukkan ketangguhan dengan pertumbuhan signifikan sebesar 7,03 persen. Kinerja ini mengindikasikan daya saing produk Indonesia di pasar global yang relatif terjaga. Sebaliknya, pertumbuhan impor melambat tajam menjadi hanya 4,77 persen. Pelemahan ini sejalan dengan permintaan domestik yang lebih hati-hati dan tekanan depresiasi pada nilai tukar rupiah.
Proyeksi dan Optimisme Hati-hati Menuju 2026
Memasuki tahun 2026, pemerintah menetapkan target pertumbuhan yang lebih ambisius di angka 5,4 persen. Bank Indonesia (BI) menyikapinya dengan proyeksi yang lebih berhati-hati, yakni dalam rentang 4,9 hingga 5,7 persen. Sikap ini merefleksikan optimisme terhadap momentum pemulihan domestik, namun tetap disertai kewaspadaan terhadap berbagai risiko eksternal yang belum reda, seperti potensi perlambatan ekonomi global dan volatilitas di pasar keuangan internasional.
Peringatan dari Lembaga Pemeringkat
Di tengah catatan pertumbuhan yang positif, datang sinyal peringatan dari lembaga pemeringkat kredit Moody's. Awal Februari 2026, mereka merevisi outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat investasi grade di level Baa2.
Moody's menilai adanya risiko terkait prediktabilitas kebijakan dan tata kelola yang berpotensi mengurangi efektivitas kebijakan publik ke depan.
Namun, lembaga tersebut juga mengakui kekuatan fundamental ekonomi Indonesia. "Fundamental ekonomi Indonesia masih ditopang oleh kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, serta pengelolaan fiskal dan moneter yang relatif prudent," ungkapnya. Moody's masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi jangka menengah sekitar 5 persen, dengan defisit fiskal yang terjaga dan rasio utang yang terkendali.
Di sisi lain, mereka mengingatkan adanya tantangan struktural. "Basis penerimaan negara yang masih lemah menjadi kendala utama dalam memperluas ruang fiskal pemerintah," jelasnya. Kondisi ini dinilai dapat membatasi kemampuan negara dalam merespons guncangan ekonomi yang mungkin terjadi di masa mendatang.
Jalan Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan
Secara keseluruhan, analisis menempatkan ekonomi Indonesia pada jalur pertumbuhan yang solid dan berkelanjutan. Momentum positif dari konsumsi dan investasi menjadi modal berharga. Namun, di balik angka-angka yang menggembirakan, dua hal perlu mendapat perhatian serius: ketahanan terhadap guncangan eksternal dan upaya mengatasi kendala struktural di dalam negeri. Keberhasilan mengelola kedua aspek inilah yang akan menentukan apakah target pertumbuhan jangka menengah dapat dicapai tanpa mengorbankan stabilitas.
Artikel Terkait
Pemerintah Tanggapi Outlook Negatif Moodys dengan Soroti Ketahanan Fiskal
Kementerian Pertanian Targetkan Distribusi 4 Juta Dosis Vaksin PMK hingga 2026, Jawa Barat Jadi Prioritas
BCA Digital Catat Laba Bersih Melonjak 98% pada 2025
Indonesia Targetkan Impor Komoditas Pertanian AS Senilai 4,5 Miliar Dolar AS