Komunitas Sulsel Gelar Nobar Film Uang Passolo di Jakarta dan Makassar

- Sabtu, 07 Februari 2026 | 18:00 WIB
Komunitas Sulsel Gelar Nobar Film Uang Passolo di Jakarta dan Makassar

Sebuah film nasional yang mengangkat tradisi Bugis-Makassar mendapat dukungan hangat dari komunitas. KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) bersama IKA Unhas dan IWSS menggelar acara nonton bareng film "Uang Passolo" di dua kota, Jakarta dan Makassar. Ini adalah bentuk apresiasi nyata terhadap karya yang menyoroti budaya lokal Sulsel.

Di Makassar, Nobar akan digelar Senin, 9 Februari 2026, pukul 16.35 WITA di XXI Panakkukang. Kuotanya terbatas, cuma untuk 150 orang pertama. Rencananya, acara ini akan dihadiri sejumlah pengurus dari PP IKA Unhas, termasuk Wakil Ketua Umum, serta pengurus DPP KKSS seperti Andi Djamarro Dulung.

Buat pengurus IKA Unhas yang tinggal di Makassar dan sekitarnya dan mau ikut, bisa mendaftar via WhatsApp ke nomor 0899-1611-111 (Poppy Rusdi). Pendaftaran ditutup kalau kuota sudah penuh. Buruan daftar!

Sementara itu, di Jakarta acaranya lebih dulu, yaitu Minggu (8/02/2026) pukul 16.35 WIB di XXI Epicentrum. Kuota di sini lebih banyak, sekitar 300 orang, yang diisi dari unsur IWSS, KKSS, dan IKA Unhas. Pendaftaran bisa melalui koordinator masing-masing: Ibu Eptati (IWSS), Andi Inamul (KKSS), dan Rian Saputra Alam (IKA Unhas).

Ketua Umum BPP KKSS, Andi Amran Sulaiman, secara khusus mengajak masyarakat untuk mendukung film ini. Ia menyampaikan ajakannya usai bertemu produser film, Nicky RV dan Mohit, di kediamannya di Kalibata, Jakarta Selatan.

“Kepada seluruh masyarakat Indonesia pencinta film nasional dan warga KKSS di manapun berada, ayo kita untuk menonton film Uang Passolo -amplop, kondangan- di bioskop terdekat. Jangan lupa ajak keluarga, kerabat, teman dan handai tolan, sebagai bentuk dukungan terhadap film nasional yang mengangkat tradisi lokal khas Bugis-Makassar,”

Begitu kata Amran.

Pendapat senada datang dari Salahuddin Alam, Direktur Eksekutif IKA Unhas yang juga Wakil Sekjen di DPP KKSS. Menurutnya, film yang mengangkat tradisi khas Sulsel ini layak ditonton di layar lebar.

“Karya film yang mengangkat tradisi di Sulsel sangat layak ditonton di layar lebar, dan memberi banyak pesan dan kesan tentang ada sebenarnya yang terjadi dalam keseharian kita dalam penyelenggaraan pesta-pesta pernikahan, di mana di dalamnya ada uang passolo,”

ujar Alam.

Ia juga membuka peluang bagi cabang KKSS di daerah yang ingin mengadakan Nobar sendiri. “Silakan menyiapkan tempatnya dan melaporkan ke kami, dan kami hanya menyiapkan filmnya dan mengirimkan ke studio yang ditunjuk untuk nonton bareng,” jelasnya. Jadi, tinggal siapkan tempatnya di bioskop seperti XXI atau CGV, urusan filmnya DPP KKSS yang atur bersama produser.

Ajakan serupa dilontarkan Andi Djamarro Dulung, Wakil Ketua Umum BPP KKSS. “Mari kita sama-sama menyaksikan dan meramaikan nonton film Uang Passolo, kisah tentang keseharian kita orang Sulawesi Selatan,” katanya. Ia berjanji akan mampir nonton di XXI Panakkukang usai perjalanan dinasnya.

Lalu, Cerita 'Uang Passolo' Ini Tentang Apa Sih?

Biba, seorang guru dengan anggaran pas-pasan, dan Rizky, videografer pernikahan yang lagi terpuruk, punya mimpi sederhana: menggelar pesta pernikahan yang apa adanya untuk memulai hidup baru. Tapi, mimpi itu langsung ketemu halangan. Keluarga Biba, yang sadar akan status sosial, nggak setuju.

Gengsi dan harapan dapat uang passolo (amplop berisi uang) yang banyak membuat keluarga Biba ngotot mengadakan pesta yang mewah. Alhasil, Biba dan Rizky pun terjebak dalam kekacauan yang kadang bikin geleng-geleng. Daftar tamu membengkak luar biasa. Desakan untuk pakai dekorasi dan katering mahal terus mendera. Belum lagi acara elekton dua malam yang bikin pusing. Keluarga dari kedua belah pihak ikut campur sana-sini.

Impian pernikahan sederhana mereka nyaris pupus. Mimpi Biba yang pengen bangunin rumah untuk ibunya, yang sudah berkorban banyak, ikut terancam. Apalagi ketika tanah mereka harus digadaikan cuma buat nutup biaya pesta yang selangit itu.

Di tengah segala tekanan dan kondisi keuangan yang serba sulit, cinta mereka jadi satu-satunya pegangan. Mereka diingatkan lagi tentang hal yang paling penting: cinta, tawa, dan seni berkompromi. Dengan tekad bulat, Biba dan Rizky berusaha mencari cara untuk menghormati nilai-nilai mereka sendiri, menciptakan pernikahan yang bermakna dan tetap mencerminkan cinta mereka yang tulus.

Perjalanan mereka penuh lika-liku. Ada momen haru, kecelakaan-kecelakaan lucu, dan juga komentar sosial yang tajam. Semua tergambar saat mereka berusaha mengarungi kompleksitas ekspektasi keluarga, tanggung jawab keuangan, dan tentu saja, arti kebahagiaan sejati.

Kredit Film:
Ide Cerita: Akmal Thamrin & Jade Thamrin
Lokasi Syuting: Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkep, Sulsel.
Produser Eksekutif: Nicki RV, Mohit NV, Rani RL
Produser: Satriyadi Mulyadi
Ko-Produser: Jade Thamrin
Sutradara: Andi Burhamzah
Penulis Skenario: Chairul Rijal Juanda
Pemeran Utama: Masita Aspah (Biba), Imran Ismail (Rizky), Jade Thamrin (Puang Ngugi), Adhy Basto (Puang Lallo).

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar