Mendagri Tito Karnavian Jelaskan Perbedaan Dampak Banjir Bandang Sumatera dan Tsunami Aceh 2004

- Sabtu, 07 Februari 2026 | 19:30 WIB
Mendagri Tito Karnavian Jelaskan Perbedaan Dampak Banjir Bandang Sumatera dan Tsunami Aceh 2004

MURIANETWORK.COM - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjelaskan perbedaan mendasar antara bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatera dengan tsunami Aceh 2004. Menurutnya, bencana hidrometeorologi kali ini memiliki pola sebaran dampak yang terpecah dan tidak merata, berbeda dengan tsunami yang menghantam wilayah pesisir secara hampir serentak. Penjelasan ini disampaikan Tito yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi pascabencana Sumatera.

Perbedaan Pola Dampak: Terpusat vs Tersebar

Dalam paparannya, Tito Karnavian membandingkan karakter kedua bencana tersebut. Tsunami 2004, yang berasal dari laut, menghantam daerah pinggiran pantai dengan kekuatan yang hampir merata di hamparan wilayah yang luas, seperti yang terjadi di Banda Aceh, Meulaboh, dan Pidie. Skenario tersebut sangat kontras dengan situasi yang sedang dihadapi Sumatera saat ini.

"Saya sampaikan agak beda ya case bencana ini dengan tsunami tahun 2004, kalau tsunami 2004 kan dari laut sehingga menghantam daerah pinggiran, dan itu rata-rata satu hamparan, misal kota Banda Aceh satu hamparan hampir tengah kota ya, kemudian Meulaboh, Pidie dan lain-lain," ujarnya.

Karakter Bencana Hidrometeorologi yang 'Tersebar'

Bencana banjir bandang dan longsor ini, jelas Tito, disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem berupa curah hujan tinggi yang berkelanjutan. Dampaknya pun muncul secara sporadis, tidak merata, dan terfragmentasi. Air yang mengalir dari dataran tinggi ke rendah menciptakan titik-titik masalah yang tersebar, tidak membentuk satu zona terdampak yang masif.

"Kalau ini karena dari hidrometeorologi, hujan yang terus menerus kemudian debit air yang turun ke bawah menerpa daerah dataran tinggi, dan juga daratan rendah maka yang terjadi adalah scattered problemnya, itu terjadi terpecah-pecah," jelasnya.

Dalam praktiknya, kondisi 'terpecah' ini berarti dalam satu provinsi sekalipun, tidak semua kabupaten atau kota mengalami dampak yang sama. Ada wilayah yang terdampak sangat parah, sementara wilayah tetangganya hanya mengalami gangguan kecil atau bahkan tidak terdampak sama sekali.

Kondisi Lapangan yang Bervariasi

Tito memberikan gambaran nyata dari lapangan untuk memperjelas analisisnya. Ia mencontohkan perbedaan kondisi yang sangat mencolok antar daerah dalam jarak yang relatif dekat.

"Contoh misalnya kita masuk dari Aceh Tamiang yang berat sekali, 30 menit dari situ kita nyeberang masuk ke kota Langsa jadi (di sana) ada air aja kemudian selesai ditangani sendiri, saya cek kota itu ya memang nggak ada masalah, masuk kota Takengon nggak ada," tuturnya.

"Gayo Lues saya lihat semua lancar, pasar jalan, tapi terputus," imbuhnya.

Antisipasi untuk Daerah Terisolasi

Menyikapi tantangan akses yang terputus di beberapa lokasi, Tito menyatakan telah melakukan koordinasi strategis. Ia telah berkoordinasi dengan Menteri Pertanian Andi Amran dan Kepala Bulog, Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani, untuk memastikan ketersediaan logistik pangan di daerah-daerah yang berpotensi terisolasi.

Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi untuk mencegah kepanikan dan memastikan ketahanan pangan warga selama proses perbaikan akses transportasi berlangsung.

"Saya sampaikan daerah-daerah yang berpotensi terkurung harus punya stok minimal 3 bulan supaya kalau ada apa-apa, mudah-mudahan nggak ada apa-apa, kalau terjadi hal sama masyarakat nggak panik, pemerintah nggak panik karena logistik itu udah ada selama 3 bulan, dan 3 bulan itu udah cukup untuk pemerintah membuka akses," pungkas Tito.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar