MURIANETWORK.COM - Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri, Jimly Asshiddiqie, menanggapi santai kekhawatiran publik mengenai komposisi timnya yang didominasi perwira tinggi Polri. Dalam sebuah dialog terbuka, Jimly dan anggota komisi Mahfud MD menjelaskan bahwa dinamika internal tim berjalan sehat dan berorientasi pada hasil yang fundamental untuk kepentingan bangsa.
Dinamika Tim yang Dipenuhi Jenderal
Isu bahwa Jimly dan Mahfud MD "dikepung" oleh jenderal polisi berbintang dalam komisi tersebut sempat mencuat, memunculkan anggapan setiap pengambilan suara akan berakhir dengan hasil 2 lawan 8. Menanggapi hal ini, Jimly tidak menampik adanya perdebatan dalam rapat-rapat tim. Namun, ia menegaskan bahwa setiap diskusi selalu diakhiri dengan mengedepankan akal sehat dan tujuan bersama.
Ia juga mengingatkan bahwa meski banyak anggota yang merupakan mantan atau aktif Kapolri, komposisi tim sebenarnya sangat beragam. Jimly secara khusus menyoroti kredensial lain di luar latar belakang kepolisian yang justru memperkaya perspektif.
"Kita kan ngomongnya akal sehat saja, saya bilang saudara-saudara kita ini jenderal semua ini, ini bintang 4 semua, semua profesor, sama profesor semua, kalau soal bintang ini ada yang bintangnya 10, NU-nya 9, KAHMI satu. Nah, kita sama-sama punya bintang kita diskusi saja," tuturnya.
Rekomendasi untuk Perubahan Fundamental
Mengenai progres kerja, Jimly menerangkan bahwa Komisi Percepatan Reformasi Polri telah menyiapkan laporan awal untuk diserahkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa seluruh rekomendasi yang dihasilkan dirumuskan bukan untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu, melainkan murni untuk kemaslahatan bangsa dan negara.
Jimly mengungkapkan, Presiden Prabowo sendiri dalam pidato pelantikannya telah menyentuh pentingnya semangat korps, namun dengan catatan agar tidak berlebihan. Latar belakang Presiden sebagai purnawirawan militer, menurut Jimly, justru menjadi modal penting untuk memahami kebutuhan reformasi yang mendalam di tubuh Polri.
"Maka, kita berharap ada perubahan yang fundamental, bukan hanya titik koma, yang kita akan laporkan itu berdampak serius. Maka, tim internal sudah saya ingatkan ini kita sama-sama hasil komisi reformasi dan hasil tim reformasi internal sama saja," jelas Jimly.
Sinergi dengan Kesepakatan DPR dan Polri
Jimly turut memberikan tanggapan mengenai 8 poin kesepakatan antara Komisi III DPR RI dan Polri yang ramai dibicarakan publik. Ia menilai kesepakatan tersebut sebagai hal yang positif dan sejalan dengan berbagai pembahasan yang telah digodok di dalam Komisi Reformasi Polri.
"Kemarin saya ditanya kan 8 poin (Polri-Komisi 3), oh itu bagus itu, jadi bagian dari apa yang kita bicarakan internal, tenang saja, tidak usah diadu," katanya.
Harapan untuk Wajah Baru Polri
Anggota komisi, Mahfud MD, menambahkan penjelasan dari sudut pandangnya. Ia melihat bahwa niat dan pemikiran dari DPR, Polri, maupun Komisi Reformasi Polri pada dasarnya sama-sama baik, yaitu ingin membawa perbaikan. Oleh karena itu, pilihan jalan keluar atau bentuk rekomendasi akhir nantinya akan diserahkan sepenuhnya kepada pertimbangan Presiden Prabowo sebagai pemegang kebijakan.
"Jalan ke luarnya bisa macam-macam pokoknya nanti kalau Bapak Presiden betul-betul itu saya kira wajah Polri akan baik. Tapi, apa itu nanti itu belum boleh sekarang," ungkap Mahfud.
Artikel Terkait
Bahlil Ingatkan Kader Golkar: Posisi Strategis Bisa Diganti Kapan Saja Jika Tak Perform
Jimly Asshiddiqie Sebut Putusan 90 Jadi Titik Nadir Kredibilitas MK
KPK Analisis Keterangan Saksi yang Terseretkan Nama Ida Fauziyah dalam Kasus Suap Sertifikasi K3
Kejati Sulsel Peringatkan Maraknya Penipuan WA Catut Nama Kajati dengan Modus AI