Abu Kamara dan PSM: Kisah Kecocokan yang Tak Sampai
MAKASSAR Fisiknya kokoh, mobilitasnya tinggi. Naluri mencetak golnya pun terasah. Tapi, sepak bola zaman sekarang ternyata lebih rumit dari sekadar kualitas individu seorang striker. Ada sistem yang harus dijalankan, filosofi yang dianut, dan arah permainan yang mesti seirama. Sayangnya, bagi Abu Kamara, semua itu tak berjalan mulus di PSM Makassar. Perjalanannya bersama Juku Eja pun berakhir.
Namun begitu, karirnya di Indonesia belum tamat. Striker asal Liberia itu sudah terdaftar di skuad Persis Solo dengan nomor punggung 4, meski belum ada pengumuman resmi dari klub. Perpindahan ini menutup babak yang terbilang singkat di Makassar.
Pelatih PSM, Tomas Trucha, bersikap elegan menyikapi kepergian sang pemain.
“Dia adalah pemain yang bagus, striker bagus. Namun inilah kehidupan dalam sepak bola,”
ucap Tomas sebelum laga melawan PSBS Biak. Kalimatnya diplomatis, ya. Tapi kalau dicermati, ada pesan terselip: di lapangan hijau, kecocokan seringkali lebih penting dari sekadar bakat.
Lalu, di mana letak ketidakcocokan itu?
Abu Kamara tiba di PSM pertengahan Agustus tahun lalu. Dalam 13 penampilan, ia mengemas tiga gol. Angka yang tidak buruk, tapi juga belum bisa dibilang luar biasa. Masalahnya, sistem Tomas Trucha menuntut lebih dari sekedar angka di papan skor.
Trucha membangun tim dengan pressing kolektif yang rapat, pergerakan tanpa bola yang cerdas, dan fleksibilitas taktik. Seorang striker idealnya bukan hanya finisher, tapi juga pemantik tekanan pertama, pembuka ruang untuk kawan, dan ujung tombak yang bisa turun membantu penguasaan bola.
“Kadang-kadang kita bisa memenuhi ekspektasi yang ada, kadang-kadang tidak bisa,”
kata Tomas lagi. Ekspektasi yang ia maksud jelas bukan cuma soal mencetak gol, melainkan kontribusi menyeluruh dalam skema yang ia bangun. Gaya permainan dinamis dan disiplin dalam menjaga bentuk tim adalah kunci. Ketika satu bagian tak berfungsi, seluruh mesin bisa macet.
Di sisi lain, ini sama sekali bukan soal kualitas Abu yang diragukan. Tomas sendiri dengan tulus mendoakan yang terbaik untuk mantan anak asuhnya.
“Di mana pun dia berada, saya berharap yang terbaik untuk dia.”
Sepak bola memang keras seperti itu. Seorang pemain bagus bisa saja tersingkir bukan karena buruk, tapi karena tidak pas dengan gaya pelatih. Keputusan seperti ini lebih bersifat taktikal, jarang yang personal.
Sekarang, PSM tampaknya sedang melakukan reset di lini depan. Kedatangan Sheriddin Boboev dan kemungkinan pemain asing baru adalah sinyal jelas: Trucha ingin striker yang benar-benar merepresentasikan visinya. Kepergian Abu Kamara hanyalah satu langkah dalam proses panjang itu.
Bagi sang striker sendiri, Solo mungkin jadi kanvas baru. Di Persis, sistemnya pasti beda, perannya bisa jadi lebih fokus sebagai target man, dan ekspektasinya mungkin lebih selaras dengan karakter yang ia miliki. Ini peluang emas untuk membuktikan diri.
Pada akhirnya, ini cerita tentang dua pihak yang mencari jalan terbaik. Bagi PSM, ini soal komitmen pada filosofi. Bagi Abu, ini tentang menemukan rumah yang tepat. Apakah keputusan berpisah ini akan jadi langkah brilian atau justru penyesalan? Hanya waktu yang bisa kasih jawabannya.
Artikel Terkait
Timnas Futsal Indonesia Runner Up Piala Asia 2026, Erick Thohir Apresiasi Prestasi Bersejarah
PSM Makassar Hadapi Laga Penentu Nasib di Sleman Lawan PSBS Biak
Dortmund Amankan Posisi Kedua Usai Tekuk Wolfsburg
Lens Geser PSG dari Puncak Klasemen Usai Kalahkan Rennes