Trump dan MBS Main Angka, Investasi AS-Saudi Tembus Rp 8.000 Triliun

- Kamis, 20 November 2025 | 16:00 WIB
Trump dan MBS Main Angka, Investasi AS-Saudi Tembus Rp 8.000 Triliun

Washington digegerkan oleh klaim investasi raksasa antara AS dan Arab Saudi. Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan baru senilai $270 miliar pada Rabu, 19 November 2025. Tapi ada yang menarik. Media pemerintah Saudi justru menyebut angka yang jauh lebih fantastis: $557 miliar. Wah, selisihnya nggak main-main.

Kalau kita lihat pengumuman-pengumuman sebelumnya soal kerja sama ekonomi kedua negara, memang agak susah membedakan mana yang benar-benar komitmen tunai dan mana yang masih sekadar janji. Maklum, angka-angka yang dilontarkan seringkali bikin pusing.

Pertemuan di Ruang Oval Gedung Putih pada Selasa benar-benar bersejarah. Di sana, Trump berhasil membujuk Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk meningkatkan janji investasi dari $600 miliar menjadi $1 triliun. Tapi Trump ternyata masih belum puas. "Saat kami berfoto, saya bilang, 'Bisakah Anda buat jadi $1,5 triliun?' Jadi dia punya sesuatu untuk dipikirkan," cerita Trump sambil tertawa saat tampil bersama sang putra mahkota yang masih berusia 40 tahun itu.

Acara investasi ini bikin Washington macet total. Bayangkan, dari eksekutif teknologi miliarder sampai firma hukum kecil berdatangan. Semua seperti berebut membuat kesepakatan dengan Arab Saudi.

Sebagai satu-satunya negara anggota G-20 di dunia Arab dengan PDB $1,24 triliun, Saudi memang punya daya tarik kuat. Tapi yang bikin beda adalah kendali penuh di tangan Mohammed bin Salman. Dibandingkan dengan negara Eropa Barat yang prosesnya lebih birokratis, di Saudi semuanya bisa berjalan lebih cepat. Sang putra mahkota mengawasi langsung dana kekayaan negara senilai $1 triliun plus perusahaan-perusahaan baru yang didukungnya.

Kilang Mineral Strategis

Dari sekian banyak kesepakatan, yang paling menarik perhatian adalah kerja sama antara MP Materials dan Maaden (Perusahaan Pertambangan Arab Saudi). Mereka berencana membangun kilang di kerajaan untuk memproses mineral tanah jarang. Ini hal besar.

Kedua perusahaan ini punya hubungan erat dengan pemerintah masing-masing. Maaden memang mayoritas sahamnya dimiliki negara Saudi, tapi CEO-nya, Bob Wilt, justru lulusan West Point dan mantan tentara AS. Sementara MP Materials, meski diperdagangkan di bursa AS, 15% sahamnya diambil alih Departemen Perang AS awal tahun ini.

Yang menarik, Arab Saudi tampaknya berhasil menawar dengan ketat. MP Materials hanya dapat 49% saham, sementara Maaden pegang 51%. Belum jelas bagaimana ini berkontribusi pada klaim Trump soal investasi $270 miliar, apalagi Departemen Perang AS yang menyediakan pembiayaan penuh untuk kontribusi AS.

Ini langkah strategis mengingat Tiongkok masih menguasai pemurnian tanah jarang global. Beijing sering menggunakan ini sebagai senjata, membatasi ekspor sebagai respons atas tarif Trump.

Grok-nya Musk Menyambang Saudi

Elon Musk, orang terkaya di dunia yang sempat berselisih dengan Trump, ternyata hadir juga di acara ini. Dia menghadiri jamuan makan malam kenegaraan untuk putra mahkota dan duduk di barisan depan tepat di sebelah Mohammed bin Salman.

xAI milik Musk, yang memproduksi chatbot Grok, mengumumkan kerja sama dengan Humain, perusahaan AI milik negara Saudi. Mereka berencana membangun pusat data baru di kerajaan dengan kapasitas 500 megawatt. "Masa depan kecerdasan akan direkayasa melalui komputer yang masif dan efisien," kata Musk.

Sementara itu, dana kekayaan negara Saudi juga menandatangani nota kesepahaman dengan Microsoft untuk menjajaki layanan cloud.

Humain: Raja Baru AI?

Humain ini benar-benar ambisius. Perusahaan AI milik negara Saudi yang sepenuhnya dimiliki Danantara ini ingin memposisikan kerajaan sebagai pusat AI global. Dan mereka tidak main-main dengan dana $1 triliun di belakangnya.

Selain dengan Musk, Humain juga mengumumkan investasi $900 juta di Luma, perusahaan California yang menciptakan video AI. Luma akan menggunakan pusat data Humain untuk mendukung pekerjaannya.

Kerja sama dengan AMD dan Cisco juga diteken untuk membangun pusat data berkapasitas satu gigawatt. Sebagai perbandingan, satu gigawatt bisa nyalain listrik untuk 800.000 rumah di AS. Tapi agak membingungkan, soalnya AMD dan Humain sudah mengumumkan kesepakatan $10 miliar pada bulan Mei.

Amazon pun ikutan, memperluas kemitraan dengan Humain untuk menerapkan hingga 150.000 akselerator AI di "Zona AI" Riyadh.

Pertanyaan Besar: Kapan Chip AI Datang?

Arab Saudi memang promosikan diri sebagai pusat data murah berkat harga listrik yang 30-50% lebih murah dari rata-rata global. Tapi ada satu hal yang masih jadi tanda tanya: kapan mereka benar-benar dapat chip AI canggih?

AS dan Saudi sebenarnya sudah mengumumkan kesepakatan pembelian ribuan chip pada Mei, tapi izin ekspornya belum keluar dari pemerintahan Trump. Trump bilang sedang diupayakan, dan Bloomberg melaporkan AS akan "memberikan lampu hijau" untuk penjualan pertama.

Sampai Rabu kemarin, belum ada pengumuman resmi. Tapi AS dan Saudi sudah menandatangani "Kemitraan Strategis Kecerdasan Buatan" yang konon mencakup penyediaan semikonduktor canggih.

Energi Konvensional Masih Jadi Andalan

Di balik semua gebyar teknologi, bisnis bahan bakar fosil ternyata masih jadi tulang punggung hubungan Saudi-AS. Saudi Aramco mengumumkan 17 kesepakatan awal dengan perusahaan AS dengan nilai potensial lebih dari $30 miliar.

Proyeknya beragam, dari gas alam cair sampai manufaktur material canggih. "Kami berharap ini jadi batu loncatan untuk kemajuan lebih lanjut," kata CEO Aramco Amin Nasser. Kesepakatan ini seperti memperluas komitmen $90 miliar yang ditandatangani saat Trump berkunjung ke Saudi bulan Mei lalu.

Jadi, meski Saudi sedang gencar bertransformasi ke teknologi, bisnis energi konvensional mereka tetap tidak boleh dipandang remeh.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar