Di Dalian sendiri, pergerakannya beragam. Kontrak minyak kedelai naik tipis 0,12 persen, sementara minyak sawitnya justru turun 0,43 persen. Sementara itu, di Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai naik 0,4 persen. Seperti biasa, minyak sawit memang kerap mengekor pergerakan minyak nabati pesaingnya karena mereka berebut pangsa pasar yang sama.
Namun begitu, ada faktor eksternal yang kali ini cukup signifikan memberi tekanan: harga minyak mentah dunia yang melonjak. Brent sempat menyentuh level di atas 115 dolar AS per barel, level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Pemicunya adalah eskalasi konflik di Timur Tengah, menyusul serangan balasan Iran ke fasilitas energi setelah Israel menyerang ladang gas South Pars.
Lonjakan harga minyak bumi ini, secara tidak langsung, membuat CPO terlihat lebih murah dan menarik sebagai bahan baku biodiesel. Itu berita baik bagi harga sawit.
Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOC) memperkirakan harga CPO akan bertahan di atas 4.450 ringgit per ton untuk jangka pendek. Dukungannya datang dari harga energi yang tinggi dan situasi Timur Tengah yang masih mencekam.
Di sisi lain, ada juga ancaman dari dalam negeri. Produsen pupuk di Malaysia mulai menangguhkan pesanan baru. Gangguan rantai pasok dan kelangkaan bahan baku imbas konflik global berpotensi mendongkrak biaya produksi bagi para petani dan produsen kelapa sawit. Situasi yang patut diamati ke depannya.
Artikel Terkait
Saham Energi Boy Thohir Jadi Penopang Pasar di Tengah Pelemahan IHSG
Menkeu Purbaya Bicara Beban Jabatan dan Rencana Bantu Pedagang Terbelit Utang
Bitcoin Koreksi 7% Usai The Fed Pertahankan Suku Bunga dan Revisi Proyeksi Inflasi
Kemenhub Klaim Harga Tiket Mudik Masih Wajar, OTA Dituding Sebabkan Persepsi Mahal