Hari Raya Idul Fitri. Bagi kebanyakan orang, momen ini adalah puncak dari segala kerinduan. Suasana penuh sukacita, berkumpul dengan sanak saudara, saling memaafkan semua itu adalah tradisi yang dinanti setiap tahunnya.
Tapi ceritanya berbeda untuk Cecep Ahmaydi. Pria 49 tahun ini adalah seorang nahkoda kapal. Sementara orang lain bersiap-siap pulang, justru di hari Lebaran itulah ia harus bekerja. Tugasnya: mengantarkan para pemudik yang masih terdampar di perjalanan agar bisa sampai ke tujuan.
Bukan cuma setahun atau dua tahun. Nahkoda dari ASDP ini sudah 25 tahun berturut-turut tak pernah merasakan Lebaran di tengah keluarganya.
"Saya di ASDP ini sudah 25 tahun, menjadi nahkoda pada 2008. Kurang lebih 17-18 tahun," ujar Cecep, ditemui di atas geladak KMP Sebuku, Sabtu lalu.
Dia melanjutkan, "Ya, buat kita pelayanan yang utama. Tugas kita kan yang penting para pemakai jasa bisa kita hantarkan ke seberang untuk bisa berlebaran."
Bagi Cecep, pilihan untuk tetap bekerja di hari raya adalah soal profesionalitas. Loyalitasnya sebagai nahkoda diwujudkan dengan memastikan pelayanan bagi para pemudik tetap berjalan, meski ia harus mengorbankan kebersamaan dengan orang-orang tercinta.
"Sudah terbiasa memang," katanya. "Tiap tahun kita tidak pernah melaksanakan hari raya bersama keluarga karena memang tugas kita ya bentuk pelayanan. Untuk memberikan yang terbaik buat penumpang yang menyeberang dari Merak ke Bakauheni, dan sebaliknya."
Meski begitu, kerinduan itu selalu datang. Terutama saat lantunan takbir berkumandang. Saat itulah ia teringat pada keluarga di rumah, yang mungkin sedang menunggu kehadirannya.
"Oh, pastinya seperti itu," ungkapnya, lirih. "Karena memang manusiawi, kita tetap masih ada rasa kangen sama keluarga. Pengin bisa berhari raya bersama."
Anak-anaknya pun kerap meminta. Mereka ingin ayahnya bisa pulang dan duduk bersama saat Lebaran tiba. Namun begitu, tuntutan pekerjaan tak bisa dielakkan. Kerinduan harus ditahan, demi tugas yang dianggapnya mulia.
"Pasti ada, terutama dari anak-anak," tutur Cecep. "Mereka ingin kita kumpul di saat hari raya. Secara intinya, ada kerinduan pengin untuk bisa berlebaran. Tapi karena memang tugas kita yang utama untuk bisa memberikan pelayanan."
Dari semua pengorbanan waktu dan perasaan itu, harapannya sederhana. Ia ingin semua penumpangnya tiba dengan selamat. Cuaca baik, armada lancar, dan para pemudik bisa tertib selama perjalanan.
"Harapannya ya kita bisa mengantarkan para pemudik dengan baik," pungkasnya. "Khususnya, semoga cuaca baik-baik saja, tidak ada kendala satu pun. Armada sehat, dan para pemakai jasanya juga bisa tertib."
Sebuah pengorbanan panjang, yang mungkin tak banyak orang lihat. Tapi bagi ribuan pemudik yang berhasil sampai ke rumah, jasa orang-orang seperti Cecep adalah segalanya.
Artikel Terkait
22.617 Warga Tinggalkan Jakarta Usai Lebaran, Hampir Dua Kali Lipat Jumlah Pendatang Baru
Pattynama Optimis Persija Kalahkan Persib di Laga El Clasico
Timnas Indonesia U-17 Tahan Gempuran China di Babak Pertama Piala Asia U-17
Indonesia Tuan Rumah Kualifikasi U-12 Junior Soccer World Challenge 2026, Jadi Peluang Emas Akademi dan SSB