Bitcoin Koreksi 7% Usai The Fed Pertahankan Suku Bunga dan Revisi Proyeksi Inflasi

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 10:15 WIB
Bitcoin Koreksi 7% Usai The Fed Pertahankan Suku Bunga dan Revisi Proyeksi Inflasi

Jakarta - Sentimen pasar berubah drastis. Harga Bitcoin, yang sebelumnya melesat mendekati angka $76.000, kini terpangkas dan bergerak di sekitar $70.000 atau setara Rp1,1 miliar. Pemicu utamanya? Hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang baru saja dirilis.

Faktanya, rapat The Fed itu menghasilkan sinyal kebijakan moneter yang masih ketat. Mereka mempertahankan suku bunga acuan di rentang 3,50-3,75 persen. Tak cuma itu, proyeksi inflasi AS untuk 2026 juga direvisi naik jadi sekitar 2,7 persen. Kombinasi ini bikin investor berpikir ulang.

Padahal, semangat pasar sempat begitu tinggi. Sebelum pengumuman FOMC, arus dana masuk ke spot Bitcoin ETF tercatat deras, mencapai $199,37 juta pada hari Selasa (17/3). Itu adalah hari ketujuh berturut-turut dana mengalir, dengan total mingguan menembus $1,16 miliar. Angka itu jelas menunjukkan minat kuat dari investor institusional.

Namun begitu, laporan The Fed seperti guyuran air dingin. Pasar pun melakukan koreksi, menurunkan harga Bitcoin sekitar 7-8 persen dari puncaknya.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, melihat ini sebagai bentuk penyesuaian ekspektasi.

“Keputusan FOMC yang mempertahankan suku bunga acuan serta revisi naik proyeksi inflasi menunjukkan arah kebijakan The Fed yang masih cenderung hawkish," katanya di Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

Dia melanjutkan, pasar menangkap pesan jelas: inflasi belum turun secepat yang diharapkan. Alhasil, likuiditas ke aset-aset berisiko tinggi, termasuk kripto, jadi lebih terbatas.

"Namun, ini merupakan bagian dari penyesuaian pasar terhadap dinamika ekonomi global yang terus berkembang," ujarnya.

Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell semakin mengukuhkan suasana hati pasar. Powell menegaskan, langkah penurunan suku bunga sangat bergantung pada perkembangan inflasi ke depan. Situasi geopolitik di Timur Tengah dan gejolak harga energi disebutnya sebagai sumber ketidakpastian tambahan. Intinya, jangan harap suku bunga turun dalam waktu dekat.

Lalu, ke mana Bitcoin akan melangkah?

Untuk saat ini, pergerakan harga berkutat di kisaran $70.000. Area $70.000–$72.000 kini jadi level support krusial yang dipantau ketat. Selama level itu bertahan, harga berpeluang stabil dalam jangka pendek. Apalagi arus dana institusional yang masuk tadi bisa membantu menahan tekanan jual.

Tapi waspadalah. Jika level support itu jebol, koreksi harga berpotensi berlanjut lebih dalam.

Di tengah kondisi makro yang mendikte sentimen, Antony Kusuma punya pandangan lain. Menurutnya, fase konsolidasi seperti ini justru bisa jadi kesempatan.

Bagi investor, momen koreksi bisa dimanfaatkan untuk menata ulang strategi dengan lebih bijak. Kuncinya adalah manajemen risiko yang tepat dan fokus pada tujuan jangka panjang. Penerapan strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) disebutnya bisa membantu investor menghadapi gejolak pasar dengan lebih tenang dan disiplin.

Jadi, meski grafik merah mendominasi layar, bukan berarti ceritanya selesai. Ini hanya babak baru dalam dinamika pasar kripto yang tak pernah benar-benar berhenti bergerak.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar