Beberapa hari setelah Idulfitri, masyarakat Indonesia punya tradisi unik: Lebaran Ketupat. Nah, perlu diingat, ini murni tradisi budaya, bukan bagian dari ibadah wajib.
Di beberapa daerah, acara ini juga akrab disebut Syawalan. Lantas, kapan sih Lebaran Ketupat di tahun 2026 bakal digelar? Mari kita simak.
Mengenal Lebaran Ketupat
Kalau merujuk pada penjelasan di NU Online, Lebaran Ketupat adalah tradisi yang dijalankan usai Idulfitri. Umumnya, tradisi ini diikuti oleh banyak muslim Indonesia, terutama di Pulau Jawa, tepatnya seminggu setelah 1 Syawal.
Bagi masyarakat Jawa, perayaan ini adalah simbol kebersamaan. Ambil contoh di Klaten, Jawa Tengah. Di sana, Lebaran Ketupat lebih dikenal dengan sebutan kenduri ketupat.
Tanggal untuk Tahun 2026
Jadwalnya selalu tetap: seminggu setelah Idulfitri. Jadi, untuk tahun 2026, karena Idulfitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret, maka Lebaran Ketupat akan dilaksanakan pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Ini jadi agenda tahunan yang dinanti. Biasanya, ketupat yang sudah disiapkan dibawa warga ke tempat kenduri di halaman rumah. Suasananya ramai sekali.
Yang dibawa bukan cuma ketupat saja, lho. Ada juga pelengkapnya seperti sayur sambal goreng dan bubuk kedelai. Semuanya lalu ditata rapi, lalu didoakan bersama-sama. Ritual ini sarat makna, mencerminkan filosofi "ngaku lepat" atau mengakui kesalahan di hadapan Allah SWT.
Asal-usul Tradisi
Sejarahnya nggak lepas dari peran Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo. Konon, dialah yang pertama kali mengenalkan ketupat ke masyarakat Jawa.
Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi punya penjelasan menarik. Katanya, tradisi kupatan muncul di era Wali Songo dengan memanfaatkan budaya slametan yang sudah ada. Tradisi lama itu kemudian diisi dengan nilai-nilai Islam, seperti cara bersyukur, bersedekah, dan mempererat silaturahmi di hari Lebaran.
Nama "ketupat" atau "kupat" sendiri berasal dari frasa Jawa "ngaku lepat". Artinya, mengakui kesalahan. Dengan saling memakan ketupat, diharapkan sesama muslim bisa saling memaafkan dan melupakan kesalahan masa lalu.
Makna filosofisnya dalam. Janur kuning sebagai pembungkus, bagi orang Jawa, adalah simbol penolak bala. Lalu, bentuk segi empatnya melambangkan "kiblat papat lima pancer" bahwa ke mana pun arah manusia, akhirnya akan kembali kepada Allah.
Ada juga yang memaknai anyaman rumit pada bungkusnya sebagai gambaran beragamnya kesalahan manusia. Sementara daging ketupat yang putih bersih ketika dibelah, melambangkan hati yang suci setelah memohon ampun. Isi berasnya? Itu harapan akan kemakmuran yang mengiringi setelah hari raya.
Artikel Terkait
Borneo FC Samai Poin Persib di Puncak Klasemen Usai Bungkam Persita 2-0
Penjual Kacamata Keliling di Bali Wujudkan Impian Naik Haji Setelah Menabung 20 Tahun
Menteri Lingkungan Hidup Akan Jadikan Program Green Policing Riau sebagai Kebijakan Nasional
Baku Hantam Ojol dengan Debt Collector di Depok Berakhir Damai, Polisi Ingatkan Prosedur Penarikan Kendaraan