Israel Siap Balas Serangan Iran, Katz Tegaskan Tak Akan Tarik Pasukan dari Zona Keamanan Lebanon, Suriah, dan Gaza

- Sabtu, 20 Juni 2026 | 04:00 WIB
Israel Siap Balas Serangan Iran, Katz Tegaskan Tak Akan Tarik Pasukan dari Zona Keamanan Lebanon, Suriah, dan Gaza

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa negaranya akan memberikan respons segera dan tegas jika diserang oleh Iran, seraya menyatakan bahwa tidak ada pihak mana pun yang berhak menentukan langkah militer Tel Aviv. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan regional pasca penandatanganan nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan meredakan konflik di berbagai front.

“Jika Iran menyerang kami, kami akan bertindak segera dan merespons dengan kekuatan. Tidak ada yang bisa memberi tahu kami apa yang harus dilakukan, dan kami telah membuktikannya,” ujar Katz dalam wawancara dengan Channel 14 pada Jumat, 19 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa Israel memiliki seluruh kapabilitas yang diperlukan untuk merespons setiap ancaman, baik secara langsung maupun pada waktu yang dianggap paling tepat.

Dalam kesempatan itu, Katz juga menegaskan bahwa Israel tidak pernah meminta Amerika Serikat untuk berperang bersama dalam operasi militer sebelumnya. “Kami tidak pernah meminta Amerika Serikat untuk berperang bersama kami melawan Hizbullah di Lebanon, unsur-unsur jihadis di Suriah, maupun Hamas di Gaza. Kami melakukannya sendiri,” katanya. Menurut Katz, Israel hanya mengharapkan dukungan diplomatik dari Washington untuk mempertahankan haknya dalam menghadapi berbagai ancaman di kawasan.

Di sisi lain, Katz menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari zona keamanan yang saat ini dikuasai di Lebanon, Suriah, maupun Jalur Gaza. “Di Lebanon, Suriah, dan Gaza, kami tidak akan meninggalkan zona keamanan itu dalam keadaan apa pun,” tegasnya.

Pernyataan Katz tersebut muncul beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri pertempuran di seluruh front, termasuk di Lebanon. Namun, sejumlah pejabat Israel mengkritik kesepakatan itu dan menyatakan tidak akan terikat dengan ketentuan yang tercantum di dalamnya. Sikap tersebut memicu respons keras dari Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance.

Berbicara di Gedung Putih pada Kamis, Vance mengecam anggota kabinet Israel yang menyerang kesepakatan antara Washington dan Teheran. “Jika saya berada di kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih saya miliki di seluruh dunia,” kata Vance. Ia juga menyebut bahwa beberapa anggota pemerintahan Israel telah “secara pribadi menyerang Presiden Amerika Serikat.”

Sementara itu, mediator dari Pakistan sebelumnya mengumumkan bahwa memorandum tersebut telah resmi berlaku. Berdasarkan kesepakatan itu, Iran akan mulai membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran internasional, sementara Amerika Serikat secara bertahap mencabut blokade laut terhadap Iran. Meski demikian, serangan Israel di Lebanon masih terus berlanjut setelah tengah malam, meskipun kesepakatan AS-Iran dilaporkan mencakup ketentuan untuk mengakhiri permusuhan di Lebanon.

Menurut data resmi terbaru, ofensif militer Israel di Lebanon sejak 2 Maret telah menewaskan 3.912 orang, melukai 11.873 lainnya, dan menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar