“Saya rasa The Fed mungkin lebih cemas soal lapangan kerja ketimbang inflasi saat ini, terlepas dari lonjakan harga minyak,” kata Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services di Hammond, Indiana.
Dugaan Carlson punya dasar. The Fed memang diperkirakan akan menahan suku bunga dalam pertemuan mendatang. Tapi para pembuat kebijakan akan dihadapkan pada teka-teki sulit: ancaman inflasi karena harga energi melambung, di satu sisi, dan sinyal pelemahan pasar kerja di sisi lain. Kombinasi yang berbau stagflasi itu jelas bikin was-was.
Pergerakan sektor di pasar pun menggambarkan situasi ini dengan jelas. Sektor energi meroket 2,5%, menjadi yang terbaik, seiring melambungnya harga minyak mentah WTI dan Brent yang masing-masing naik 4,6% dan 4,8%. Sebaliknya, sektor barang konsumsi pokok justru terpuruk paling dalam.
Di papan Nasdaq, lebih banyak saham yang tertekan. Rasio saham turun versus naik adalah 1,38 banding 1. Sementara itu, volume perdagangan relatif sepi, hanya 17,79 miliar saham, di bawah rata-rata 20 hari terakhir.
Pasar tampaknya masih mencari arah yang pasti. Di balik sedikitnya rekor tertinggi baru yang tercatat, ada lebih banyak lagi rekor terendah baru. Semuanya menunggu perkembangan berikutnya dari medan perang dan ruang rapat The Fed.
Artikel Terkait
BULL Tambah Armada dengan Kapal Tanker LNG Kedua, Siap Operasi 2026
Wall Street Turun Tertekan Ancaman Perang dan Lonjakan Harga Minyak
Direktur Utama Dharma Polimetal Mundur Setelah 36 Tahun Bekerja
ADRO Siapkan Rp4 Triliun dari Kas Internal untuk Buyback Saham