Di tengah situasi seperti ini, The Fed diprediksi akan menahan suku bunga acuan dalam pertemuan mendatang. Tapi ini jadi dilema. Para pembuat kebijakan harus mempertimbangkan ancaman lonjakan harga di satu sisi, dan tanda-tanda pelemahan pasar kerja di sisi lain. Kombinasi berbahaya yang berbau stagflasi.
Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services di Hammond, Indiana, punya pandangan menarik.
“Menurut saya, mereka mungkin lebih khawatir soal lapangan kerja ketimbang inflasi saat ini, terlepas dari lonjakan harga minyak,” ujarnya.
Di lantai bursa, sektor energi jadi bintang hari itu, melonjak 2,5% seiring naiknya harga minyak mentah. Kontrak berjangka WTI dan Brent masing-masing naik 4,6% dan 4,8%. Sebaliknya, sektor barang konsumsi pokok justru terperosok paling dalam.
Pergerakan saham individual juga menunjukkan ketidakpastian. Di Nasdaq, lebih banyak saham yang turun (2.696) daripada yang naik (1.960). S&P 500 hanya mencetak 2 rekor tertinggi baru, tapi ada 13 rekor terendah baru. Nasdaq lebih parah: 44 rekor tinggi berhadapan dengan 112 rekor rendah.
Volume perdagangannya pun terlihat lesu, hanya 17,79 miliar saham. Jauh di bawah rata-rata 20 hari terakhir yang mencapai 20,09 miliar saham. Sepertinya banyak investor yang memilih menunggu dan melihat, menahan diri di tengah awan perang yang makin pekat.
Artikel Terkait
Wall Street Turun Tertekan Eskalasi Konflik Iran dan Ancaman Harga Minyak
Direktur Utama Dharma Polimetal Mundur Setelah 36 Tahun Bekerja
ADRO Siapkan Rp4 Triliun dari Kas Internal untuk Buyback Saham
Wall Street Dibayangi Inflasi dan Gejolak Minyak, Pasar Terbelah