Wall Street menutup perdagangan Rabu (11/3) dengan catatan merah. Meski data inflasi terbaru AS terbilang stabil, perhatian investor justru tersedot ke arah lain: eskalasi konflik dengan Iran yang semakin panas dan ancamannya terhadap pasokan minyak global. Dow Jones, misalnya, anjlok hampir 290 poin.
Menurut laporan, Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 0,61% ke level 47.417,27. S&P 500 juga melemah, meski tipis, 0,08% menjadi 6.775,80. Nasdaq Composite justru sedikit bernafas, naik 0,08% menjadi 22.716,14 berkat dukungan dari saham-saham chip.
Sejauh mata memandang, suasana perdagangan hari itu benar-benar bergejolak. Investor seperti diombang-ambingkan antara kekhawatiran akan gangguan pasokan setelah Iran menyerang sejumlah kapal di Selat Hormuz dan upaya penenangan dari pihak lain.
OPEC, misalnya, berusaha menenangkan pasar dengan menyatakan Arab Saudi telah menambah produksi. Badan Energi Internasional (IEA) juga ikut campur dengan rencana melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategisnya. Tapi, apakah itu cukup?
Di tengah semua keributan itu, laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) yang keluar malah agak terabaikan. Angkanya sesuai ekspektasi, menunjukkan inflasi masih moderat. Bahkan, pertumbuhan tahunannya kini cuma selisih setengah poin dari target 2% The Fed.
Namun begitu, laporan itu dianggap sudah basi. Ia merekam kondisi sebelum perang meletus. Padahal, konflik inilah yang memicu lonjakan harga minyak mentah dan berpotensi memacu inflasi ke depan. Kekhawatiran makin menjadi setelah komando militer Iran menyebut dunia harus bersiap menghadapi harga minyak US$200 per barel lebih dari dua kali lipat harga sekarang!
“Saya rasa The Fed mungkin lebih cemas soal lapangan kerja ketimbang inflasi saat ini, terlepas dari lonjakan harga minyak,” kata Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services di Hammond, Indiana.
Dugaan Carlson punya dasar. The Fed memang diperkirakan akan menahan suku bunga dalam pertemuan mendatang. Tapi para pembuat kebijakan akan dihadapkan pada teka-teki sulit: ancaman inflasi karena harga energi melambung, di satu sisi, dan sinyal pelemahan pasar kerja di sisi lain. Kombinasi yang berbau stagflasi itu jelas bikin was-was.
Pergerakan sektor di pasar pun menggambarkan situasi ini dengan jelas. Sektor energi meroket 2,5%, menjadi yang terbaik, seiring melambungnya harga minyak mentah WTI dan Brent yang masing-masing naik 4,6% dan 4,8%. Sebaliknya, sektor barang konsumsi pokok justru terpuruk paling dalam.
Di papan Nasdaq, lebih banyak saham yang tertekan. Rasio saham turun versus naik adalah 1,38 banding 1. Sementara itu, volume perdagangan relatif sepi, hanya 17,79 miliar saham, di bawah rata-rata 20 hari terakhir.
Pasar tampaknya masih mencari arah yang pasti. Di balik sedikitnya rekor tertinggi baru yang tercatat, ada lebih banyak lagi rekor terendah baru. Semuanya menunggu perkembangan berikutnya dari medan perang dan ruang rapat The Fed.
Artikel Terkait
ALII Raih Kredit Investasi Rp494,5 Miliar dari BRI untuk Ekspansi Armada
PT Timah Genjot Produksi dan Hilirisasi pada 2026 Manfaatkan Momentum Harga Global
Vale Indonesia (INCO) Eksekusi Opsi Greenshoe USD250 Juta, Total Fasilitas Kredit Membengkak Jadi USD750 Juta
IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Asing Tarik Dana Hingga Rp2 Triliun dalam Sehari