Wall Street Turun Tertekan Ancaman Perang dan Lonjakan Harga Minyak

- Kamis, 12 Maret 2026 | 06:40 WIB
Wall Street Turun Tertekan Ancaman Perang dan Lonjakan Harga Minyak

Wall Street menutup perdagangan Rabu (11/3) dengan catatan merah. Melemahnya pasar saham AS ini terjadi meski laporan inflasi terbaru terbilang stabil. Tapi rupanya, investor punya kekhawatiran lain yang lebih mendesak: eskalasi konflik antara AS-Israel dengan Iran yang makin panas dan dampaknya yang kian meluas.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas cukup dalam, turun 289.24 poin (0,61%) ke level 47.417,27. S&P 500 juga melemah, meski tipis, 5.68 poin (0,08%) menjadi 6.775,80. Nasdaq Composite justru sedikit menguat 19.03 poin (0,08%), ditutup di 22.716,14.

Sejujurnya, sesi perdagangan hari itu benar-benar bergejolak. Pikiran investor terbelah. Di satu sisi, ada ancaman nyata terhadap pasokan minyak global. Iran terus melancarkan serangan ke kapal-kapal di Selat Hormuz yang vital itu. Bayangkan, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat itu.

Namun begitu, ada juga kabar yang sedikit menenangkan. OPEC menyebut Arab Saudi sudah menambah produksi. Belum lagi Badan Energi Internasional (IEA) yang bersiap melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategisnya. Upaya meredam kepanikan, tapi seberapa efektif?

Dari ketiga indeks utama, Dow Jones-lah yang paling terpuruk. Nasdaq, berkat dukungan dari saham-saham produsen chip, bisa sedikit mengangkat kepala di detik-detik penutupan.

Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) dari Departemen Tenaga Kerja sebenarnya cukup baik. Inflasi bulan lalu moderat, sesuai prediksi analis. Bahkan, pertumbuhan tahunannya kini cuma selisih setengah poin persen dari target 2% The Fed. Tapi pasar seperti tutup mata. Laporan itu dianggap sudah ketinggalan zaman, datang sebelum perang pecah dan mendorong harga minyak mentah melambung bahan bakar baru untuk inflasi.

Kekhawatiran itu makin jadi setelah komando militer Iran mengeluarkan pernyataan keras. Mereka bilang dunia harus bersiap menghadapi harga minyak mentah yang bisa menyentuh 200 dolar AS per barel. Angka yang lebih dari dua kali lipat harga sekarang.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar