Beberapa proyek yang masuk daftar prioritas antara lain customer attachment, perluasan jaringan gas rumah tangga di Sumatera dan Jawa, hingga pembangunan Pipa Tegal–Cilacap. Perpanjangan Pipa Sei Mangkei dan pengembangan terminal regasifikasi di Jawa Timur juga tak ketinggalan. Di sisi lain, PGN rupanya tak mau ketinggalan tren. Mereka akan terus mendorong pengembangan bisnis rendah karbon, termasuk inisiatif biomethane, sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang.
Sementara itu, di lini hulu, perusahaan mengalokasikan dana sekitar USD 134 juta. Angka ini ditujukan untuk mengoptimalkan eksplorasi dan meningkatkan lifting migas. Beberapa program utamanya meliputi kegiatan pengeboran di Wilayah Kerja Pangkah, Ketapang, dan Fasken. Ada juga rencana perpanjangan kontrak kerja sama di WK Pangkah serta survei seismik 3D.
Arief menekankan, aspek keselamatan dan keberlanjutan tetap jadi perhatian serius di tengah semua rencana pengembangan ini.
"Untuk memastikan pencapaian target kinerja operasional, kami memperkuat aspek HSSE dengan target Zero accident. Sementara untuk komitmen keberlanjutan, kami menargetkan pengurangan emisi sebesar 35.000 ton CO2 ekuivalen," katanya.
Menghadapi dinamika pasar energi yang fluktuatif, PGN menyadari kolaborasi adalah kuncinya. Mereka berusaha mempererat sinergi dengan semua pemangku kepentingan. Hal ini dianggap penting untuk menjaga transparansi dan menyelaraskan ekspektasi terhadap prospek bisnis perusahaan di masa depan.
Artikel Terkait
Matahari Department Store Gelar RUPS Ganda di Tengah Penurunan Laba 2025
Konflik Timur Tengah Picu Anjloknya Wall Street dan Lonjakan Harga Minyak
Lippo Cikarang Hibahkan Lahan 31,3 Hektare di Meikarta untuk Rumah Subsidi
Skrining Kesehatan Jiwa: 1 dari 10 Anak Alami Gejala Kecemasan atau Depresi