Hasil Cek Kesehatan Gratis untuk anak-anak tahun 2025-2026 cukup mencengangkan. Dari tujuh juta anak yang diskrining, hampir satu dari sepuluh menunjukkan gejala kecemasan atau depresi. Angkanya tidak main-main.
Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, sekitar 338.000 anak terdeteksi mengalami gejala kecemasan. Sementara itu, gejala depresi ditemukan pada sekitar 363.000 anak.
"Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali," tegas Budi dalam sebuah konferensi pers di Kantor Kemenkes, Senin lalu.
Baginya, temuan ini harus jadi perhatian serius. Soalnya, masalah mental pada anak bisa berujung fatal, bahkan pada kematian akibat bunuh diri. Dan data global sepertinya mengonfirmasi kekhawatiran ini.
Survei Global School-Based Student Health menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Persentase anak yang mencoba bunuh diri melonjak dari 3,9% di tahun 2015 menjadi 10,7% pada 2023. Lonjakannya signifikan, hampir tiga kali lipat dalam delapan tahun.
Nah, akar masalahnya kompleks. Bukan cuma soal kondisi si anak semata, tapi juga dipengaruhi lingkungan keluarga, pergaulan, dan tekanan di sekolah. Semuanya saling terkait.
Merespons ini, Kemenkes punya rencana ambisius. Mereka ingin memperluas jangkauan skrining CKG hingga ke 25 juta anak. Nantinya, Puskesmas akan bertindak berdasarkan hasil skrining tersebut.
Artikel Terkait
Konflik Timur Tengah Picu Anjloknya Wall Street dan Lonjakan Harga Minyak
Lippo Cikarang Hibahkan Lahan 31,3 Hektare di Meikarta untuk Rumah Subsidi
BNI Bagikan Dividen Rp13,03 Triliun dan Setujui Buyback Rp905,48 Miliar
IHSG Anjlok 3,27%, Pasar Saham Indonesia Dibanjiri Aksi Jual