Kemenperin Dorong Industri Kemasan Nasional Beralih ke Material Ramah Lingkungan di Tengah Gejolak Geopolitik

- Jumat, 24 April 2026 | 04:15 WIB
Kemenperin Dorong Industri Kemasan Nasional Beralih ke Material Ramah Lingkungan di Tengah Gejolak Geopolitik

IDXChannel – Gejolak geopolitik belakangan ini bikin banyak pihak khawatir. Rantai pasok bahan baku plastik, misalnya, mulai terancam. Tapi di balik kekhawatiran itu, ada peluang yang bisa dipetik. Industri kemasan dalam negeri punya momentum untuk bertransformasi, beralih ke material yang lebih ramah lingkungan, kompetitif, dan berdaya saing.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, bilang kalau pelaku industri sudah mulai bergerak. Mereka melakukan diversifikasi material kemasan. Ada yang pakai kertas, kaca, logam, bahkan plastik daur ulang seperti recycled PET atau rPET.

Nah, soal kemasan berbasis kertas, Kemenperin optimistis. Menurut mereka, industri pulp dan kertas nasional punya fondasi yang cukup kuat. Bayangkan saja, pada 2025 nanti, sektor ini didukung oleh 113 perusahaan. Kapasitas produksi pulp mencapai 14,48 juta ton per tahun, sementara kertas 25,37 juta ton per tahun. Nilai ekspornya tembus USD8,2 miliar. Tak cuma itu, sektor ini juga menyerap sekitar 1,48 juta tenaga kerja.

“Potensi pengembangan kemasan berbasis kertas sangat besar,” ujar Putu dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4/2026). “Terutama untuk kebutuhan ritel, industri makanan dan minuman, e-commerce, dan logistik. Saat ini kita juga fokus mengembangkan aseptic packaging. Ini banyak dipakai industri mamin untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok dingin atau cold chain.”

Dia melanjutkan, inovasi seperti barrier paper, paper bottle, nano-cellulose coating, dan active paper packaging perlu terus didorong. Lewat riset dan investasi, semua itu bisa diperkuat.

Di sisi lain, Kemenperin juga gencar memacu pengembangan bioplastik. Bahan bakunya dari hayati, seperti singkong dan rumput laut. Beberapa pelaku industri dalam negeri sudah mulai memproduksi kemasan ramah lingkungan berbasis pati singkong maupun seaweed-based packaging. Menariknya, Indonesia punya peluang besar di sini. Soalnya, kita termasuk produsen utama ubi kayu dan rumput laut dunia.

“Saat ini sudah ada beberapa pelaku usaha bioplastik berbahan baku ubi kayu dan rumput laut,” kata Putu. “Berdasarkan data SIINas, total kapasitas industri bioplastik berbahan baku ubi kayu sebesar 8 ribu ton per tahun. Sedangkan untuk rumput laut, kapasitasnya 28 ton per tahun.”

Dia menegaskan, Kemenperin berkomitmen memantau perkembangan global. Kebijakan pemerintah akan difokuskan untuk memperkuat struktur industri nasional. Caranya? Lewat diversifikasi bahan baku, penguatan sektor hulu, dan pengembangan produk kemasan yang variatif.

“Langkah-langkah ini diharapkan bisa meningkatkan daya saing. Sekaligus memperkuat ketahanan industri agro Indonesia menghadapi gejolak dari luar,” pungkas Putu.

(NIA DEVIYANA)

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar