Wall Street bukannya meroket di awal pekan ini, malah terperosok. Sentimen pasar langsung suram begitu bel dibuka pada Senin (9/3/2026), terseret oleh memanasnya kembali konflik di Timur Tengah. Imbasnya langsung terasa: harga minyak mentah dunia melesat, bikin semua orang waswas.
Indeks-indeks utama berwarna merah. Dow Jones anjlok 1,2 persen, diikuti S&P 500 yang turun sekitar 1 persen. Nasdaq Composite relatif lebih tahan, tapi tetap saja terkoreksi 0,8 persen. Suasananya jelas tegang.
Kekhawatiran terbesar datang dari komoditas energi. Harga minyak Brent sempat menyentuh level USD119,50 per barel di awal sesi lonjakan yang cukup buat membuat investor merinding. Bayang-bayang inflasi yang sudah tinggi jadi makin menakutkan. Kalau harga energi bertahan lama di level gila-gilaan begini, beban keuangan rumah tangga bisa makin berat.
Steve Sosnick, Direktur Strategi Pasar di Interactive Brokers, melihat situasi ini dengan prihatin. Menurutnya, pasar saat ini benar-benar dikendalikan oleh gejolak geopolitik.
“Kami seperti ditarik oleh peristiwa di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak,” ujarnya.
Dia menegaskan, durasi konflik adalah kuncinya. “Semakin lama situasi ini berlangsung, semakin besar dampaknya terhadap ekonomi dan semakin sulit untuk pulih,” tambah Sosnick. Ancaman resesi pun mulai membayang.
Artikel Terkait
Matahari Department Store Gelar RUPS Ganda di Tengah Penurunan Laba 2025
PGN Alokasikan Rp6 Triliun untuk Perkuat Infrastruktur Gas pada 2026
Lippo Cikarang Hibahkan Lahan 31,3 Hektare di Meikarta untuk Rumah Subsidi
Skrining Kesehatan Jiwa: 1 dari 10 Anak Alami Gejala Kecemasan atau Depresi