Di sisi lain, laporan ketenagakerjaan AS untuk Februari justru mengecewakan. Alih-alih bertambah, ekonomi AS malah kehilangan 92.000 pekerjaan. Angka ini sangat kontras dengan ekspektasi para ekonom yang memprediksi penambahan 58.000 lapangan kerja. Tingkat pengangguran pun merangkak naik jadi 4,4 persen.
Yang bikin runyam, data bulan-bulan sebelumnya juga direvisi ke bawah. Januari yang tadinya 130.000, dikoreksi jadi 126.000. Desember 2025 malah berubah dari pertumbuhan 48.000 menjadi penurunan 17.000. Laporan ini jelas mempersulit tugas The Fed.
Samuel Tombs, kepala ekonom AS di Pantheon Macroeconomics, melihat sedikit celah terang. "Tidak ada kabar baik dari laporan pekerjaan ini," katanya. Ia mengakui ada faktor teknis seperti pemogokan yang memengaruhi, tapi intinya tetap suram. "Revisi memperburuk gambaran," tambahnya.
Reaksi pasar pun cepat. Pedagang segera meningkatkan taruhan untuk pemotongan suku bunga The Fed, berharap bank sentral akan bertindak menopang ekonomi.
Data lain yang dirilis Jumat, penjualan ritel Januari, turun 0,2 persen. Angka ini sedikit lebih baik dari perkiraan, tapi komponen intinya datar lagi-lagi di bawah ekspektasi.
Jadi, Jumat itu Wall Street terjepit. Di satu sisi, perang dan minyak mahal bikin inflasi waspada. Di sisi lain, pasar tenaga kerja yang lesu berteriak minta stimulus. Investor seperti dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama pahit.
Artikel Terkait
IFSH Cetak Kenaikan 81,56% di Tengah Pelemahan IHSG 7,89%
Wall Street Ditutup Merah Pekan Lalu, Dihantam Ketegangan Timur Tengah dan Data Pekerjaan AS yang Lemah
Laba Bersih PGN Anjlok 36,5% Meski Pendapatan Naik 4,9%
Garuda Indonesia Turun Peringkat ke Bintang 4, Janjikan Transformasi Layanan