Wall Street menutup pekan dengan catatan merah yang dalam. Meski sempat ada upaya pemulihan di tengah sesi, ketegangan geopolitik dan data ekonomi yang mengecewakan akhirnya menyeret indeks utama ke zona negatif pada Jumat (6/3/2026) lalu.
Konflik langsung antara AS-Israel dan Iran jadi pemicu utama kekacauan. Serangan itu mendorong harga minyak melambung tinggi, tentu saja, dan langsung mengguncang sentimen pasar. Di sisi lain, laporan pasar tenaga kerja AS yang jauh lebih lemah dari perkiraan ikut menambah tekanan. Gabungan kedua faktor ini menciptakan hari perdagangan yang cukup berat.
Indeks S&P 500 akhirnya terpangkas 1,4 persen ke level 6.738,15. Nasdaq, yang dipenuhi saham teknologi, merosot lebih dalam 1,6 persen. Sementara Dow Jones berhasil memulihkan sebagian kerugiannya, tapi tetap saja ditutup turun 1 persen.
Steve Sosnick dari Interactive Brokers melihat ada pola yang menarik. Menurutnya, arus berita hari itu memang buruk: minyak naik tajam, data pekerjaan lemah. Tapi para pembeli yang mencari kesempatan saat harga turun ternyata muncul juga.
"Mereka masuk tepat waktu setelah S&P 500 menguji level support di 6.715," ujar Sosnick. "Pelaku pasar masih punya kecenderungan untuk membeli saat turun dan mengejar reli apa pun yang mungkin terjadi. Sepertinya banyak yang menganggap situasi Iran ini cuma gangguan sementara, bukan awal masalah berkepanjangan."
Dia menambahkan, dengan latar belakang berita yang begitu panas, penurunan 'hanya' 1 persen sebenarnya bukan hasil yang buruk. "Tinggal lihat saja, apakah kondisi ini bertahan atau trader justru gelisah dan menutup posisi mereka sebelum akhir pekan," tambahnya.
Pekan lalu benar-benar menjadi pekan terburuk bagi Wall Street sejak Oktober 2025. S&P 500 anjlok 2 persen, Dow bahkan terperosok 3,1 persen. Sentimen utamanya jelas: konflik Timur Tengah yang tiba-tiba meluas setelah serangan ke Iran. Ancaman terhadap pasokan minyak dari salah satu produsen utama dunia itu langsung mendongkrak harga.
Lonjakan harga energi ini, sayangnya, datang di waktu yang salah. Ia langsung memicu kekhawatiran inflasi baru. Biaya rata-rata bensin di AS dilaporkan melonjak 27 sen. Situasi ini berpotensi menekan margin perusahaan dan daya beli konsumen, sekaligus mempersulit tugas Federal Reserve.
Di tengah ketegangan, ada sedikit kabar yang mungkin bisa meredakan. Menurut sejumlah sumber, Arab Saudi disebut sedang meningkatkan keterlibatan diplomatiknya dengan Iran untuk meredam konflik. Tentu saja, efektivitas upaya ini masih harus ditunggu.
Tekanan lain datang dari dalam negeri AS sendiri. Laporan penggajian non-pertanian untuk Februari mengejutkan banyak pihak. Alih-alih menambah lapangan kerja, ekonomi AS justru kehilangan 92 ribu pekerjaan. Angka ini jauh meleset dari ekspektasi para ekonom yang memperkirakan penambahan 58 ribu. Tingkat pengangguran pun naik menjadi 4,4 persen.
Data buruk ini justru dilihat dari sudut yang berbeda oleh sebagian pelaku pasar. Chris Zaccarelli dari Northlight Asset Management berkomentar,
"Laporannya memang sangat buruk. Tapi pasar mungkin menerimanya dengan baik, karena ini bisa mendorong The Fed untuk lebih agresif memangkas suku bunga. Kabar buruk untuk ekonomi, bisa jadi kabar baik untuk pasar uang."
Pandangan itu rupanya banyak diikuti. Alat CME FedWatch menunjukkan trader mulai meningkatkan taruhan untuk pemotongan suku bunga yang lebih cepat, menanggapi data pekerjaan yang lemah.
Selain itu, data penjualan ritel untuk Januari juga dirilis di hari yang sama. Angka utamanya turun 0,2 persen, sedikit lebih baik dari perkiraan. Namun, angka intinya justru datar dan mengecewakan. Rupanya, pekan lalu Wall Street harus menelan banyak pil pahit sekaligus.
Artikel Terkait
Dharma Polimetal Bagikan Dividen Rp329,41 Miliar dari 50% Laba Bersih 2025
Wall Street Bangkit Didorong Optimisme AI dan Laporan Keuangan Kuat
Astra Otoparts Catat Kenaikan Laba Bersih 10,6% di Kuartal I-2026
Prochiz (KEJU) Janji Penuhi Aturan Free Float BEI Sebelum Batas Akhir 2029