IHSG Tertekan Dua Hari Berturut-turut Imbas Eskalasi Konflik Timur Tengah

- Rabu, 04 Maret 2026 | 07:30 WIB
IHSG Tertekan Dua Hari Berturut-turut Imbas Eskalasi Konflik Timur Tengah

Namun begitu, analis MNC masih melihat secercah harapan. Jika konflik tidak meluas dan bisa dikendalikan, efek lonjakan harga minyak dan sentimen negatif mungkin hanya sementara. Tapi skenario terburuknya berbeda. Eskalasi yang berlangsung tiga sampai lima pekan, apalagi jika sampai mengganggu Selat Hormuz, bakal berimbas serius. Rantai pasok global bisa kacau, biaya angkut dan asuransi melambung, modal asing kabur, dan tekanan di pasar Asia akan makin menjadi.

Lalu, saham apa yang prospektif di tengah gejolak seperti ini?

Menurut analisis sektoral, saham energi dan hulu migas seperti MEDC, ELSA, dan ENRG berpeluang diuntungkan dari kenaikan harga komoditas. Logam mulia seperti ANTM, MDKA, BRMS, dan HRTA juga sering dianggap sebagai aset defensif saat situasi tak menentu.

Perusahaan pelayaran tanker dan kontainer pun punya peluang. BULL, SOCI, GTSI, dan SMDR berpotensi menikmati kenaikan tarif angkut (freight rate). Tak ketinggalan, emiten batu bara seperti ITMG dan ADRO bisa jadi lindung nilai alternatif di sektor energi.

Tapi hati-hati, tidak semua sektor aman. Saham perbankan besar yang sensitif dengan arus modal asing, sebut saja BBCA dan BMRI, berisiko tertekan jika investor asing ramai-ramai hengkang. Sektor konsumer diskresioner juga patut diwaspadai, mengingat daya beli masyarakat bisa melemah dan likuiditas pasar mungkin menyusut.

Pada akhirnya, semua keputusan investasi ada di tangan investor. Situasinya dinamis, dan pasar saham selalu penuh kejutan.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar