Rabu (4/3/2026) jadi hari yang kelam lagi untuk pasar saham Asia. Gelombang aksi jual menerjang hampir semua bursa regional, didorong oleh satu kekhawatiran yang sama: konflik di Timur Tengah yang kian panas. Investor tampaknya mulai sadar, perang ini mungkin takkan cepat usai dan dampaknya bisa jauh lebih luas.
Korsel dan Jepang jadi yang paling terpukul. Indeks KOSPI anjlok 6,04 persen, sebuah kejatuhan yang dramatis. Dalam dua hari saja, kerugiannya sudah menembus 13 persen. Won pun ikut terperosok ke level terendah dalam 17 tahun. Sementara itu, Nikkei Jepang melanjutkan tren negatif untuk hari ketiga berturut-turut dengan penurunan 3,11 persen.
Kedua negara ini sangat bergantung pada impor energi. Jadi, wajar saja mereka paling sensitif ketika harga minyak melonjak. Dan lonjakan itu benar-benar terjadi. Kontrak berjangka minyak Brent melesat lebih dari 12 persen hanya dalam seminggu, menyentuh level USD81,40 per barel.
Namun begitu, ada sedikit angin segar dari langkah AS. Presiden Donald Trump memerintahkan jaminan asuransi untuk pengiriman di Teluk dan menyebut angkatan lautnya siap mengawal kapal tanker. Berita ini sempat meredam kenaikan harga minyak, meski situasi di lapangan tetap mencemaskan.
Pasukan AS dan Israel telah menggempur Iran selama empat hari. Balasannya, serangan drone dan rudal Iran menghantam kilang minyak di kawasan Teluk, bahkan menyasar kedutaan besar AS di Arab Saudi dan Kuwait. Targetnya jelas: infrastruktur energi.
“Konflik tampaknya akan berlangsung sedikit lebih lama dari yang diperkirakan semula,” kata Damien Boey, ahli strategi di Wilson Asset Management, Sydney.
“Bahkan terjadi eskalasi karena perang kini meluas hingga melibatkan sekutu AS. Infrastruktur minyak terlihat menjadi sasaran serangan sehingga pelaku pasar harus mempertimbangkan berapa lama situasi ini akan berlangsung,” tambahnya.
Kekacauan ini memicu aksi ambil untung besar-besaran di aset yang sebelumnya dianggap aman. Emas, misalnya, merosot sekitar 4,5 persen dalam satu malam. Uang dari sana dan dari saham-saham chip yang sebelumnya melesat, kini ditarik untuk menutupi kerugian di tempat lain. Pasar sedang dalam mode bertahan hidup.
Di sisi lain, bursa regional lainnya juga ikut memerah. Shanghai Composite merosot 0,76 persen, Hang Seng Hong Kong tergerus 1,44 persen. Tak ketinggalan, ASX 200 Australia dan STI Singapura masing-masing melemah 1,86 persen dan 1,68 persen.
Lalu bagaimana dengan Wall Street? Indeks S&P 500 akhirnya ditutup melemah 0,8 persen, meski sempat memangkas kerugian yang lebih dalam. Kekhawatiran utamanya tetap sama: harga minyak yang tinggi bisa bertahan lama, dan itu akan mempersulit upaya bank sentral menurunkan suku bunga.
“Isu terbesar yang sedang dipertimbangkan investor kembali pada keterkaitan antara inflasi dan suku bunga,” ujar Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services.
Pagi ini di sesi Asia, ada sedikit upaya stabilisasi. Emas mulai mendatar, futures Wall Street dan Europa juga mencoba bangkit. Tapi nuansa hati pasar masih was-was. Semuanya kini bergantung pada perkembangan di Teluk setiap berita baru bisa dengan mudah menggoyang pasar yang sudah gugup ini.
Artikel Terkait
BFIN Alokasikan Seluruh Saham Treasuri untuk Program MESOP Karyawan
CIMB Niaga Bagikan Dividen Tunai Rp4,07 Triliun pada Mei 2026
Pemegang Saham Setujui Stock Split 1:2 Saham ITSEC Asia
ITSEC Asia Dapat Restu Pemegang Saham untuk Stock Split 1:2