Pasar saham Indonesia ikut terombang-ambing. Pemicunya? Serangan udara AS dan Israel ke Iran akhir pekan lalu, yang menewaskan Ayatollah Khamenei, benar-benar menyulut ketegangan baru di Timur Tengah. Sentimen negatif global itu langsung terasa di Bursa Efek Indonesia.
IHSG tercatat melemah untuk hari kedua berturut-turut. Pada Selasa (3/3/2026), indeks ditutup di level 7.939,77, turun 0,96%. Padahal sehari sebelumnya, Senin, pelemahannya jauh lebih dalam: 2,65%. Tren ini jelas mencerminkan kecemasan pelaku pasar.
Menurut Reuters, situasi di kawasan memang makin panas. Israel membalas Hizbullah dengan menyerang Lebanon. Sementara itu, Iran dikabarkan melanjutkan serangannya ke negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. Suasana jadi mencekam.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas menyoroti dua hal yang membebani pasar. Pertama, tentu saja eskalasi konflik AS-Iran. Pernyataan keras Presiden AS Donald Trump soal kemungkinan perang yang berlarut-larut menambah ketidakpastian. Alhasil, banyak investor memilih bersikap hati-hati dan menarik dulu dananya dari aset berisiko.
Kedua, ada kekhawatiran soal pasokan minyak. "Jika sampai terjadi gangguan di Selat Hormuz, harga energi bisa melonjak tak terkendali," tulis riset mereka. Lonjakan semacam itu berisiko memicu inflasi global yang lebih tinggi.
Di sisi lain, MNC Sekuritas dalam riset terbarunya (2 Maret 2026) mengingatkan bahwa volatilitas jangka pendek di pasar domestik sangat mungkin terjadi. Mereka melihat pola serupa pada Juni 2025 lalu. Kala itu, IHSG sempat anjlok sekitar 5% dalam seminggu sebelum akhirnya pulih seiring isu gencatan senjata. Pada periode yang sama, harga minyak melesat 7-12% dan rupiah melemah.
“Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Indonesia sebenarnya cukup rentan,” kata MNC Sekuritas. Kerentanannya bisa muncul dalam beberapa bentuk: defisit neraca perdagangan yang membesar, tekanan pada nilai tukar rupiah, dan tentu saja, ancaman inflasi. Apalagi jika harga minyak dunia jauh melonjak dari asumsi APBN 2026 yang cuma USD70 per barel.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 1,66%, Seluruh Sektor Terkapar di Zona Merah
Konflik Timur Tengah Picu Aksi Jual dan Anjloknya Bursa Asia
BEI Siapkan Demutualisasi untuk Pacu Peringkat ke 10 Besar Global
Harga Emas di Pegadaian Turun pada Awal Maret 2026