Dan dia mengingatkan, “Semakin lama Selat Hormuz secara efektif tertutup bagi pelayaran, semakin besar kemungkinan harga minyak akan terus merangkak naik.”
Di sisi lain, pergerakan saham global terlihat berat. Indeks MSCI dunia turun tipis 0,45 persen, meski sempat memangkas pelemahan. Di Eropa, STOXX 600 ditutup turun lebih dalam, 1,35 persen.
Tapi pasar AS menunjukkan ketahanannya. Setelah sempat terperosok, indeks S&P 500 berbalik menguat tipis di sesi sore. Sektor energi, pertahanan, dan teknologi jadi penopang. Menurut Lindsey Bell dari 248 Ventures, fokus investor jelas. “Banyak kekhawatiran hari ini terkait inflasi dan minyak akibat konflik di Timur Tengah,” ujarnya.
Bell menambahkan, justru karena kekhawatiran itu, investor malah makin fokus ke saham AS. Alasannya, saham AS dinilai menawarkan kepastian yang lebih besar soal laba dan pertumbuhan ekonomi ketimbang wilayah lain.
Lalu, apakah pasar sedang panik? Chris Zaccarelli dari Northlight Asset Management punya pandangan. Menurutnya, pasar global memang tegang, tapi investor belum sampai menunjukkan kepanikan atau memprediksi keruntuhan ekonomi dunia. Indikator ketakutan Wall Street, VIX, sempat melonjak ke level tertinggi sejak November, tapi kemudian kenaikannya dipangkas. Terakhir hanya naik 0,58 poin.
Sementara itu, di tengah gejolak, aset safe haven seperti emas mendapat angin. Logam kuning itu menguat pada Senin, didorong meningkatnya kekhawatiran akan konflik yang berkepanjangan. Sepertinya, banyak yang memilih bermain aman.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Turun Rp13.000 per Gram di Butik Setiabudi
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Pelemahan Pasar Saham Asia dan Lonjakan Harga Energi
Permintaan Properti High-End Tumbuh, Pasar Menengah Masih Tertatih
Kekhawatiran Timur Tengah dan Kredit Swasta Pacu Lonjakan Imbal Hasil Utang Eropa