Sentimen pasar berubah drastis Senin lalu. Indikator kredit utama di Eropa menunjukkan kemerosotan, didorong oleh kekhawatiran mendalam investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Tak hanya itu, kerentanan pasar kredit swasta yang selama ini mengendap ikut memicu kecemasan. Akibatnya, indeks kredit korporasi 'junk' regional tercatat melonjak ke level imbal hasil tertinggi dalam empat bulan terakhir, tepatnya sejak November 2025.
Dalam situasi seperti ini, pola klasik pun terulang. Dana-dana investor mulai mengalir keluar dari aset berisiko. Kredit, cryptocurrency, dan saham seketika kehilangan daya tariknya.
Data dari Reuters, Selasa (3/3/2026), memperjelas gambaran suram ini. Indeks iTRAXX Europe Crossover, barometer biaya lindung nilai gagal bayar untuk utang perusahaan berimbal hasil tinggi, melesat hampir 11 basis poin (bps) ke kisaran 270 bps. Kenaikan pekanannya bahkan yang terbesar sejak awal Oktober tahun lalu.
Di sisi lain, pasar untuk kredit yang lebih mapan juga tak luput dari tekanan. Indeks iTRAXX Europe Main yang mengukur kredit berkategori investasi, naik 1,5 bps ke level sekitar 57 bps. Ini merupakan kenaikan terbesar yang mereka alami sejak pertengahan Oktober.
Lalu, apa pemicu lainnya? Kegagalan sebuah perusahaan pembiayaan hipotek Inggris pekan lalu benar-benar menyentak pasar. Insiden itu menambah daftar panjang kekhawatiran, terutama terkait lonjakan utang korporasi yang terkait erat dengan demam kecerdasan buatan (AI). Standar pinjaman yang longgar ikut disoroti.
Artikel Terkait
Permintaan Properti High-End Tumbuh, Pasar Menengah Masih Tertatih
Analis Proyeksikan ERAA Jadi Raksasa Ritel Gaya Hidup Modern
Konflik Timur Tengah Pacu Harga Minyak dan Gas Melonjak Tajam
MEJA Rencanakan Pembagian Saham Bonus 10:8 Senilai Rp35,7 Miliar