Harga minyak dan gas melonjak tajam pada Senin lalu. Pemicunya? Eskalasi konflik antara AS dan Israel dengan Iran yang kian meluas, dan banyak yang memperkirakan bakal berlangsung cukup lama bahkan berminggu-minggu. Situasi ini langsung bikin pasar tegang.
Kekhawatiran terbesar ya sederhana: pemulihan ekonomi global yang masih timbang-tembang bisa terganggu. Belum lagi ancaman inflasi yang siap menyala kembali. Dampaknya langsung terasa di mana-mana. Indeks saham global tertinggal, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS merangkak naik diselimuti kecemasan akan harga-harga yang melambung.
Nah, soal minyak, kenaikannya benar-benar curam. Kontrak berjangka minyak mentah meroket setelah serangan dan aksi balasan memaksa sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah tutup. Yang bikin waswas, lalu lintas kapal di Selat Hormuz jalur vital bagi pasokan minyak dunia ikut terganggu. Investor pun sibuk menebak-nebak: sampai kapan perang udara ini berlangsung?
Secara angka, minyak mentah AS (WTI) ditutup naik 6,28 persen ke level USD71,23 per barel. Sementara Brent, patokan internasional, melesat 6,68 persen ke USD77,74.
Tapi, ada hal menarik. Robert Yawger, analis Mizuho, ngomong kalau pasar sepertinya percaya situasi ini bakal cepat berakhir. “Pasar tampaknya menilai akhir dari situasi ini akan terjadi lebih cepat daripada nanti,” katanya, dikutip Dow Jones Newswires.
Dia ngasih contoh, WTI berpotensi diperdagangkan di bawah USD70 lagi, dan Brent sudah turun lebih dari USD5 dari level puncaknya.
“Produksi minyak memang belum dihentikan,” jelas Yawger. “Tapi lalu lintas kapal tanker di Teluk Persia sempat dihentikan sebagai langkah pencegahan.”
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Turun Rp13.000 per Gram di Butik Setiabudi
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Pelemahan Pasar Saham Asia dan Lonjakan Harga Energi
Permintaan Properti High-End Tumbuh, Pasar Menengah Masih Tertatih
Kekhawatiran Timur Tengah dan Kredit Swasta Pacu Lonjakan Imbal Hasil Utang Eropa