"Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami mengimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental. Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor," ujar Hendrik.
Pernyataan itu jelas ingin meredam kepanikan. Imbauannya sederhana: jangan terbawa emosi, lihat kembali kondisi fundamental perusahaan, dan evaluasi portofolio.
Di sisi lain, pelemahan ini bukan fenomena lokal. Bursa-bursa di kawasan Asia Pasifik juga kompak memerah pagi ini, mengikuti sentimen risiko global yang memburuk. Sebut saja Indeks Nikkei 225 di Jepang, yang tercatat anjlok 1,76 persen di awal sesi. Rasanya, seluruh wilayah sedang menahan napas menunggu perkembangan lebih lanjut dari Timur Tengah.
Nah, situasinya sekarang begini. Pasar saham kita lagi diuji oleh ketegangan geopolitik yang rumit. Langkah selanjutnya? Mungkin memang seperti kata Hendrik, kepala harus tetap dingin di tengah badai yang belum jelas kapan redanya.
Artikel Terkait
KISI Challenge Berakhir, BYD Denza D9 dan Hermès Birkin 25 Diberikan ke Pemenang
IHSG Terkoreksi 1,6%, Mayoritas Sektor Tertekan di Awal Pekan
BEI Jatuhkan Lebih dari 3.000 Sanksi Sepanjang 2025, Mayoritas Keterlambatan Laporan
Impor Indonesia Tembus US$21,2 Miliar di Januari 2026, Naik 18,21 Persen