Kawasan bandara I Gusti Ngurah Rai pagi ini ramai, tapi bukan oleh turis yang hendak berangkat. Suasana justru dipenuhi kebingungan. Konflik yang memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran ternyata dampaknya sampai juga ke Bali, mengacaukan sejumlah penerbangan internasional. Banyak penumpang yang tiba-tiba terjebak, terpaksa memperpanjang masa tinggal tanpa persiapan sama sekali.
Marlene dan suaminya, pasangan asal Belanda yang sedang berbulan madu, merasakan langsung imbasnya. Rencana pulang mereka buyar. Penerbangan mereka lewat Doha dibatalkan, memaksa mereka mencari opsi lain.
“Kami sudah cari penerbangan baru yang menghindari Timur Tengah,” ujar Marlene, suaranya terdengar lelah. “Tapi harganya selangit dan durasinya terlalu panjang. Akhirnya kami memutuskan untuk tinggal beberapa hari lagi di sini.”
Mereka sudah mendatangi konter Qatar Airways, berharap ada kejelasan. Namun begitu, solusi konkret belum juga diberikan. Situasi serupa dialami Tyrah, seorang wisatawan asal Kenya yang sedang menikmati liburan solo selama sepuluh hari. Penerbangannya pulang yang transit di Kuala Lumpur dan Doha pun ikut terkena imbas pembatalan.
Tyrah juga sudah bolak-balik ke layanan pelanggan maskapai. Hasilnya? Tidak banyak. Ia hanya diminta bersabar dan menunggu informasi lebih lanjut.
“Mereka cuma menyuruh saya rajin cek halaman resmi mereka di Twitter, untuk melihat jadwal baru,” katanya. “Tapi tidak ada jaminan. Saya cuma bisa menunggu dan terus memantau, itu saja.”
Dari lobi bandara yang biasanya penuh dengan pelukan perpisahan, sekarang berganti dengan wajah-wajah cemas dan percakapan panik tentang rute alternatif. Konflik yang terjadi ribuan kilometer jauhnya, tiba-tiba terasa sangat dekat di sini.
Artikel Terkait
Rating Indonesia Dipertahankan S&P, Emas Dunia Menguat, dan Laporan Pajak Tembus 11,22 Juta
21 RT di Jakarta Terendam Banjir Akibat Luapan Kali Ciliwung
Porsche Rilis 911 GT3 S/C, GT3 Convertible Pertama dengan Atap Otomatis
Gubernur DKI Pramono Anung Perjuangkan Konser BTS di JIS atau GBK