Partai Gema Bangsa melontarkan kecaman keras. Mereka menolak segala bentuk agresi militer yang melanggar kedaulatan sebuah negara, apalagi yang memicu eskalasi berbahaya di Timur Tengah. Situasi di sana memang sudah memanas, dan tindakan provokatif hanya akan memperkeruh keadaan.
Menurut Ary Oskandar, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Gema Bangsa yang membidangi urusan luar negeri, serangan ke Iran itu jelas-jelas melanggar hukum internasional. "Ini arogansi kekuasaan," ujarnya. Baginya, sikap semacam itu bukan cuma mengancam perdamaian global, tapi juga membahayakan keselamatan banyak orang.
"Tak ada justifikasi politik apa pun yang dapat membenarkan tindakan yang memperluas perang dan memperbesar korban sipil,"
Ary menegaskan hal itu dalam pernyataannya yang dirilis Senin lalu, tanggal 2 Maret 2026. Gema Bangsa berpendapat, intervensi bersenjata yang mengabaikan kedaulatan negara lain adalah pelanggaran serius terhadap Piagam PBB. Lebih dari itu, ini ancaman langsung buat stabilitas dunia.
"Perang jelas bukan solusi. Perang adalah kegagalan diplomasi dan kegagalan kepemimpinan,"
Di sisi lain, Indonesia punya posisi yang harus dijaga. Berlandaskan konstitusi dan politik luar negeri bebas aktif, negeri ini tak boleh jadi alat, apalagi cuma mengikuti tekanan kekuatan global mana pun. Sikap kita harus tegas: berdiri di pihak perdamaian, hukum internasional, dan tentu saja, kepentingan nasional kita sendiri.
Partai ini juga mendesak penghentian operasi militer yang berpotensi memicu perang lebih luas. Mereka menuntut komunitas internasional untuk konsisten, berhenti main standar ganda dalam menegakkan hukum. "Pemerintah Indonesia diharap mengambil langkah diplomasi aktif yang berani," desak Ary.
Tak cuma soal politik, dampak praktisnya ke rakyat juga jadi perhatian. Gema Bangsa mendorong pemerintah bertindak nyata melindungi WNI dan menjaga stabilitas ekonomi nasional. Soalnya, gejolak konflik global bakal langsung terasa: harga energi melonjak, beban subsidi membengkak, nilai tukar rupiah tertekan, dan daya beli rakyat merosot. Rakyat Indonesia tidak boleh menjadi korban dari ambisi geopolitik yang tak mereka ciptakan.
"Kepemimpinan dunia hari ini sedang diuji. Siapa yang memilih memperbesar api konflik akan tercatat dalam sejarah sebagai pihak yang memperpanjang penderitaan umat manusia,"
Sebagai informasi, serangan AS dan Israel ke Iran sendiri sudah berlangsung sejak Sabtu, 28 Februari 2026. Rudal-rudal menghujani target militer hingga sipil di berbagai wilayah Iran. Korban jiwa berjatuhan, mencapai ratusan. Bahkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, dilaporkan wafat akibat serangan tersebut.
Artikel Terkait
Nottingham Forest Kandaskan Porto, Lolos ke Semifinal Liga Europa
Aston Villa Hancurkan Bologna 4-0, Lolos ke Semifinal Liga Europa
Prabowo dan KSAD Bahas Capaian TNI AD: 300 Jembatan dan Renovasi Sekolah Tuntas dalam Tiga Bulan
IHSG Melemah Tipis ke 7.621, Tekanan Jual Masih Membayangi