Setelah berbulan-bulan terombang-ambing di zona merah, IHSG akhirnya menunjukkan secercah harapan. Tanda-tanda pembalikan arah mulai terlihat, meski masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut. Ini tentu jadi angin segar bagi investor yang sempat frustrasi.
Menurut Arief Putra, Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas, fase terburuk bagi indeks saham kita mungkin sudah terlampaui. Dalam risetnya yang terbit pertengahan April lalu, ia menyebut IHSG kini mulai masuk tahap pemulihan yang lebih solid.
“IHSG sempat anjlok sekitar 24 persen dari puncaknya tahun ini. Tapi, kita lihat indeks sudah bangkit sekitar 7 persen dari titik terendah itu. Ini bisa jadi awal tren rebound yang lebih berkelanjutan,” jelas Arief.
Lalu, apa yang mendorong perubahan suasana ini? Arief melihat ada beberapa katalis. Kekhawatiran soal penurunan status Indonesia oleh MSCI ke frontier market mulai mereda. Begitu pula dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang perlahan mencair. Di sisi lain, isu defisit anggaran pemerintah memang masih mengintai, tapi dinilai masih bisa dikelola bertahap.
Perhatian juga tertuju ke Wall Street. Pemulihan saham-saham teknologi raksasa AS, kelompok yang dijuluki "Magnificent Seven", diyakini bisa menyuntikkan kembali kepercayaan investor. Saham-saham ini sebelumnya terpukul cukup dalam, koreksinya mencapai 15-25 persen.
Upaya regulator dinilai cukup efektif. Langkah OJK dan BEI memperketat pengawasan, termasuk dengan pengelompokan investor ke dalam 39 kategori dan penegakan disiplin pasar, berhasil meredam risiko. Kebijakan pemerintah menjaga stabilitas harga BBM juga disebut Arief turut menopang fundamental ekonomi tanpa memicu kelangkaan.
Secara global, angin juga berhembus lebih baik. Permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan tetap kuat. Kekhawatiran soal belanja modal berlebihan oleh perusahaan teknologi besar pun mulai berkurang. Bahkan, rencana IPO sejumlah raksasa teknologi seperti SpaceX dan OpenAI di paruh kedua 2026 bisa memicu gelombang revaluasi di sektor ini.
Namun begitu, investor tak boleh lengah. Arief mengingatkan adanya bias stagflasi di pasar, yaitu asumsi bahwa ekonomi melemah di tengah inflasi yang masih tinggi. Dalam situasi seperti ini, strateginya adalah fokus pada emiten punya daya tawar harga kuat dan neraca yang sehat. Volatilitas pasar harus dilihat sebagai peluang, bukan ancaman.
Untuk portofolio, Arief merekomendasikan sejumlah saham. Di antaranya EXCL, WIFI, dan ISAT. Dari perbankan, ada BBCA, BBRI, dan BMRI. Lalu MYOR, INDF, serta ASSA.
Secara sektoral, telekomunikasi dipandang punya prospek cerah. Konsolidasi industri dan disiplin harga yang membaik bisa jadi pendorong. Trafik data seluler diproyeksi melonjak hingga empat kali lipat pada 2030, didorong digitalisasi dan konsumsi video yang tak terbendung.
Sebaliknya, sektor konsumer masih tertekan. Daya beli yang melemah, harga BBM yang naik, dan rupiah yang lesu membuat biaya impor membengkak. Sektor perbankan sendiri dinilai relatif tangguh. Prospeknya netral hingga positif, didukung suku bunga yang lebih tinggi dan likuiditas pemerintah yang membantu menahan biaya dana.
Intinya, sinyal pemulihan mulai terlihat. Tapi jalan menuju puncak baru tentu tidak datar. Butuh kehati-hatian dan pemilihan saham yang tepat.
Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan Anda.
Artikel Terkait
28 Saham Mid-Big Cap Catat PBV di Bawah 1, Sinyal Value Investing?
Direktur MSIN Buka Suara Soal Volatilitas Saham dan Rencana Secondary Listing
MNC Sekuritas Gelar Instagram Live Bahas Potensi dan Risiko Waran Terstruktur
Grup Bakrie Pacu Restrukturisasi Modal Lewat Rights Issue dan Private Placement