Dampaknya langsung terasa. Bayangkan saja, dua bursa utama itu adalah rumah bagi perusahaan-perusahaan paling bernilai di kawasan. Penutupan mendadak ini membuat aset senilai miliaran dolar tiba-tiba terbeku. Investor pun cuma bisa menunggu, sambil mencerna kabar tentang kerusakan di bandara, pelabuhan, dan permukiman setelah serangan Sabtu dan Minggu itu.
Kepanikan sudah lebih dulu terlihat di bursa lain yang masih buka. Pada hari Minggu, pasar saham Teluk berdarah-darah. Indeks utama Arab Saudi anjlok lebih dari 4 persen di pembukaan. Oman melemah 3 persen. Mesir bahkan merosot tajam 5,44 persen. Sementara Kuwait, memilih untuk menghentikan perdagangan sama sekali langkah darurat yang menggambarkan suasana ketakutan.
Buat yang menunggu kejelasan, saran resminya cuma satu: pantau terus kanal komunikasi dari Otoritas Pasar Modal UEA, ADX, dan DFM. Kabar soal kapan perdagangan akan kembali normal, masih jadi tanda tanya besar. Situasinya benar-benar fluid, dan semua pihak tampaknya sedang menahan napas.
Artikel Terkait
Krisis Timur Tengah Picu Gejolak Mata Uang Global, Franc Swiss Menguat
Harga Minyak Melonjak 7% Usai Ketegangan Iran-Israel Ancam Selat Hormuz
JSI Sinergi Mas Gelar Tender Wajib Saham LAPD Rp84,2 Miliar
Analis Proyeksi IHSG Berpeluju ke Level 8.650, Soroti Saham INDY hingga UNVR