Pasar valuta asing bergerak tak menentu Senin (2/3/2026) pagi. Krisis Timur Tengah yang memanas pasca-eskalasi militer AS dan Israel ke Iran, langsung berimbas pada pergerakan mata uang global. Euro melemah, sementara dolar AS justru melonjak.
Franc Swiss, yang kerap dianggap sebagai aset safe-haven, menguat sekitar 0,2 persen terhadap dolar ke posisi 0,7674. Bahkan, kenaikannya terhadap euro lebih tajam lagi, yakni 0,6 persen ke level 0,9030. Ini adalah posisi terkuat franc sejak 2015, lho.
Di sisi lain, euro terperosok 0,3 persen ke USD1,1781. Yen Jepang sempat menguat, tapi momentumnya terbatas. Rupanya, beban impor minyak Jepang yang besar jadi faktor penghambat. Akhirnya, yen justru melemah tipis ke 156,32 per dolar AS.
Pergerakan serupa terlihat pada pound sterling dan dolar Australia keduanya anjlok lebih dari 0,5 persen. Yuan China di pasar offshore juga ikut merosot sekitar 0,2 persen. Wajar saja, mengingat Negeri Tirai Bambu itu adalah importir energi raksasa sekaligus pembeli utama minyak Iran.
Suasana ketidakpastian ini jelas membuat para analis waspada.
"Tidak ada yang tahu berapa lama ini akan berlangsung, seberapa tinggi harga minyak akan naik, atau berapa lama Selat Hormuz akan ditutup," ujar Jason Wong, seorang analis BNZ di Wellington.
Artikel Terkait
GoTo Beri Klarifikasi Soal Harga Saham di Sidang Korupsi Chromebook
BEI Bekukan Perdagangan Saham TIRT Usai Kenaikan Hampir 100% dalam Sebulan
Saham Batu Bara Meroket, Dipicu Ketegangan Timur Tengah dan Prospek Permintaan Global
Harga Minyak Melonjak 7% Usai Ketegangan Iran-Israel Ancam Selat Hormuz