Harga Minyak Melonjak 7% Usai Ketegangan Iran-Israel Ancam Selat Hormuz

- Senin, 02 Maret 2026 | 09:15 WIB
Harga Minyak Melonjak 7% Usai Ketegangan Iran-Israel Ancam Selat Hormuz

Harga minyak dunia tiba-tiba melonjak. Pada Senin (2/3/2026) lalu, sentimen pasar langsung berubah total. Lonjakannya cukup tajam, sekitar 7 persen, mendorong harga ke level tertinggi yang belum pernah dilihat dalam beberapa bulan belakangan. Pemicunya jelas: ketegangan di Timur Tengah yang memanas dengan cepat setelah Iran dan Israel saling serang, mengincar kapal-kapal tanker dan mengancam jalur pasokan dari kawasan penghasil minyak itu.

Kontrak berjangka Brent sempat menyentuh USD82,37 per barel. Angka itu adalah yang tertinggi sejak awal tahun 2025. Kenaikan ini terjadi tak lama setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang berujung pada tewasnya Pemimpin Tertinggi mereka, Ali Khamenei, di hari Sabtu. Hingga pukul 07.54 WIB, Brent masih bertengger di USD78,24 per barel, naik signifikan 7,37 persen.

Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga ikut meroket. Kenaikannya mencapai 6,95 persen menjadi USD71,68 per barel, setelah sebelumnya sempat mencatat level tertinggi sejak pertengahan 2025 di angka USD75,33.

Menurut sejumlah laporan, situasinya memang makin runyam. Israel kembali meluncurkan serangan ke Teheran pada Minggu, dan Iran tak tinggal diam dengan membalas menggunakan rudal-rudalnya. Semua ini terjadi hanya sehari setelah Khamenei tewas, sebuah peristiwa yang jelas mendorong kawasan Timur Tengah dan ekonomi global ke dalam kubangan ketidakpastian yang lebih dalam.

Dampaknya langsung terasa di lautan. Serangan-serangan itu membuat kapal-kapal komersial jadi sasaran empuk. Rudal dikabarkan menghantam setidaknya tiga kapal tanker di dekat Teluk, menewaskan satu pelaut. Informasi ini datang dari sumber pelayaran dan pejabat setempat yang menyaksikan langsung kekacauan tersebut.

Yang bikin pasar makin kalang-kabut, Iran kemudian menyatakan telah menutup jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Langkah ini memaksa pemerintah dan kilang-kilang di Asia yang notabene adalah pembeli utama minyak dunia untuk buru-buru mengevaluasi cadangan mereka. Ketegangan supply pun tak terhindarkan.

“Dengan aksi balasan yang kini berkembang menjadi serangan terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz, ancaman terhadap pasokan minyak meningkat secara signifikan,” kata Daniel Hynes, seorang analis di ANZ.

Analis dari Citi bahkan memperkirakan harga Brent bisa bergerak di kisaran USD80 hingga USD90 per barel sepanjang pekan ini, seiring konflik yang terus berkecamuk.

“Pandangan dasar kami adalah kepemimpinan Iran berubah, atau rezim berubah cukup signifikan untuk menghentikan perang dalam satu hingga dua pekan, atau AS memutuskan melakukan de-eskalasi setelah melihat perubahan kepemimpinan dan kemunduran program rudal serta nuklir Iran dalam periode yang sama,” ujar analis Citi tersebut.

Menariknya, di tengah gejolak ini, OPEC justru membuat keputusan lain. Pada hari Minggu, mereka menyepakati kenaikan produksi minyak untuk bulan April nanti, meski hanya sekitar 206.000 barel per hari. Tapi apakah ini cukup?

Helima Croft dari RBC Capital punya pandangan menarik. Menurutnya, hampir semua produsen OPEC saat ini sudah beroperasi mendekati kapasitas penuh. Hanya Arab Saudi yang masih punya ruang lebih. “Pemanfaatan kapasitas cadangan akan sangat terbatas jika jalur perairan penting menjadi tidak dapat beroperasi,” tegasnya. Intinya, jika Selat Hormuz macet, stok cadangan yang tersisa pun sangat tipis.

Risiko terhadap pelayaran komersial benar-benar melonjak dalam sehari terakhir. Data pelayaran di hari Minggu menunjukkan lebih dari 200 kapal termasuk tanker minyak dan gas terpaksa menjatuhkan jangkar di sekitar selat dan perairan sekitarnya, menunggu situasi reda.

Menyikapi hal ini, Fatih Birol, Direktur Badan Energi Internasional (IEA), menyatakan lembaganya sedang aktif memantau perkembangan. Mereka terus berkomunikasi dengan produsen utama di kawasan dan negara-negara anggotanya. IEA sendiri punya peran krusial: mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis (SPR) dari negara-negara maju jika keadaan darurat benar-benar terjadi.

Sementara itu, analis Goldman Sachs mencoba melihat dari sisi persediaan. Mereka mencatat, total stok minyak global yang terlihat saat ini mencapai 7,827 juta barel. Angka itu sebenarnya mendekati level historisnya jika dihitung setara dengan 74 hari permintaan global.

“Pasar minyak dapat menarik persediaan, memanfaatkan kapasitas cadangan setelah Selat Hormuz kembali dibuka, dan berpotensi memperoleh dukungan dari pelepasan cadangan strategis global,” tulis mereka. Jadi, masih ada sedikit ruang untuk bernapas, tapi semuanya bergantung pada kapan konflik ini mereda dan jalur pelayaran vital itu kembali aman.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar