Pak Haji, Dermawan Misterius yang Rutin Bagikan Uang ke Warga Miskin di Jakarta Tengah Malam

- Selasa, 02 Juni 2026 | 07:00 WIB
Pak Haji, Dermawan Misterius yang Rutin Bagikan Uang ke Warga Miskin di Jakarta Tengah Malam

Kedatangannya tak pernah bisa dipastikan, tetapi selalu dinanti. Sosok yang akrab disapa Pak Haji itu biasanya muncul di tengah malam, membawa amplop berisi uang untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Selama dua tahun terakhir, Tian, seorang pria paruh baya, setia menunggu di bawah tiang beton stasiun MRT, tepat di trotoar Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan. Berselimut debu jalanan dan melawan dinginnya angin malam, ia duduk di atas alas seadanya bersama puluhan orang lain. Mereka semua datang dengan satu harapan yang sama: menyambut kedatangan Pak Haji.

Informasi mengenai sosok dermawan ini mulai ditelusuri oleh jurnalis pada dua malam terakhir. Dari penelusuran di lapangan, Pak Haji diketahui kerap membagikan uang di sejumlah titik. Lokasi pertama berada di Jalan Panglima Polim, tak jauh dari stasiun MRT Blok A. Dua lokasi lainnya berada di wilayah Mampang Prapatan, serta kawasan Pasar Rumput dan Senen. Pak Haji biasanya baru muncul setelah lewat tengah malam.

Pada Kamis malam, 28 Mei 2026, pantauan dilakukan di dua lokasi tersebut. Sejak pukul 22.00, sejumlah tunawisma sudah bersiap di trotoar Jalan Panglima Polim. Laju kendaraan yang semula padat perlahan berkurang. Suara klakson yang riuh ikut lenyap ditelan pekatnya malam. Semakin larut, trotoar justru semakin ramai. Mendekati pukul 24.00, warga berjejer dengan alas seadanya banner bekas atau tikar sederhana. Sebagian terlelap, sebagian lainnya hanya melemparkan pandangan ke arah jalan yang mulai sepi.

“Ada yang bagi-bagi rezeki. Enggak bisa dipastikan datangnya. Namanya kita mengharap saja,” ujar Tian saat berbincang malam itu.

Sembari menunggu, Tian bercerita bahwa Pak Haji biasanya memberikan uang sekitar Rp50 ribu per orang. Untuk warga lanjut usia, nominalnya lebih besar, mencapai Rp100 ribu. Bagi Tian yang sudah tidak bisa bekerja akibat stroke, uang tersebut sangat berarti. Ia tinggal di sebuah masjid dan hanya bisa makan jika ada orang dermawan yang memberi.

Menurut Tian, Pak Haji sudah menjadi sosok yang familiar di kalangan warga sekitar. Ia datang satu hingga dua kali dalam sepekan, umumnya pada hari Senin dan Kamis. Namun, jadwal kedatangannya tidak pernah tetap. Mereka hanya bisa menunggu dalam ketidakpastian. Jika tak kunjung datang, mereka pulang dan kembali pada esok hari. Benar saja, hingga pukul dua dini hari, Pak Haji tak muncul.

Keesokan harinya, Jumat 29 Mei 2026, pantauan kembali dilakukan di lokasi yang sama. Tian sudah duduk di tempat biasanya. Kali ini, ada Wahyu, warga lain yang juga menunggu. Dari penuturannya, sosok Pak Haji kembali diceritakan dengan gambaran yang serupa.

Wahyu mengungkapkan bahwa Pak Haji tidak suka jika warga berkerumun saat pembagian uang berlangsung. Mereka yang ingin mendapatkan amplop cukup duduk rapi berjejer, tidak perlu berdiri atau mengerumuni mobil yang ditumpangi Pak Haji. Bukan hanya pemulung, sopir bajaj hingga warga biasa pun kerap ikut menunggu hingga larut malam. Sosok Pak Haji telah menjadi semacam legenda di kalangan warga sekitar.

“Iya, sudah enggak asinglah ibarat kata cerita,” kata Wahyu.

Dari pengalaman Wahyu, pembagian uang tak selalu dilakukan langsung oleh Pak Haji. Ada seorang kepercayaannya yang dikenal dengan nama Bogel. Sesekali, Bogel-lah yang membagikan uang dengan menggunakan sepeda motor.

Jarum jam telah menunjukkan lewat tengah malam, namun belum ada tanda-tanda kedatangan Pak Haji. Wahyu kemudian melanjutkan ceritanya. Ia mengatakan bahwa kepastian kedatangan Pak Haji sebenarnya sudah diinformasikan, tetapi hanya kepada orang-orang tertentu yang memiliki telepon genggam. Informasi itu disampaikan melalui sebuah grup WhatsApp. Wahyu tidak tahu persis nama grup tersebut, tetapi ia memahami bahwa grup itu digunakan untuk berkoordinasi dan memberi tahu jika Pak Haji hendak datang ke suatu lokasi.

“Iya, ada grupnya WhatsApp. Nanti dikasih tahu sama ajudannya,” ujar Wahyu.

Di dalam grup itu, terdapat nomor ajudan Pak Haji dan beberapa perwakilan di setiap titik pembagian. Informasi lokasi pun disampaikan, karena Pak Haji tidak hanya membagikan uang di Panglima Polim, tetapi juga di Mampang, Manggarai, Pasar Rumput, hingga Senen. Ajudan Pak Haji kerap menegur warga yang berpindah-pindah tempat demi mendapatkan sumbangan dua kali. Tak jarang, orang-orang seperti itu justru dilewati dan tidak diberi amplop ketika Pak Haji datang.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar