Trio Pejabat Iran Ambil Alih Kepemimpinan Sementara Pasca Wafatnya Khamenei

- Senin, 02 Maret 2026 | 10:10 WIB
Trio Pejabat Iran Ambil Alih Kepemimpinan Sementara Pasca Wafatnya Khamenei

Iran punya rencana. Menyusul wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, pemerintah mengumumkan bahwa Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Yudisial Gholamhossein Mohseni Ejei, dan seorang anggota Dewan Garda akan memegang kendali selama masa transisi ini.

Konstitusi negara itu jelas. Pengganti Khamenei harus dipilih oleh Majelis Ahli Kepemimpinan lembaga yang dulu memilihnya juga. Tapi, di tengah serangan Amerika Serikat dan Israel, menghimpun 88 ulama anggota majelis itu dengan cepat bukan perkara mudah. Soal keamanan jadi kendala utama.

Majelis Ahli sendiri, meski anggotanya dipilih rakyat setiap delapan tahun, pada praktiknya hanya diisi ulama yang loyal mutlak pada Republik Islam. Tak heran, mayoritasnya saat ini adalah ulama garis keras seperti almarhum Khamenei.

Menurut aturan, pemimpin baru harus dipilih secepatnya. Khamenei dulu terpilih di hari yang sama ketika Ayatollah Khomeini wafat pada 1989. Namun begitu, situasi sekarang jauh berbeda dan lebih berbahaya.

Untuk sementara, tugas-tugas Pemimpin Tertinggi itu diambil alih oleh trio tadi: presiden, ketua lembaga kehakiman, plus seorang ulama berpengaruh dari Dewan Garda.

Penerus Sudah Disiapkan, Bahkan Sebelumnya

Para pengamat sebenarnya sudah lama membaca situasi ini. Para ulama dan komandan paling berpengaruh di Iran telah bersiap menghadapi hari-hari seperti sekarang, seperti dilaporkan kepala koresponden internasional BBC, Lyse Doucet. Kesiapan itu makin menguat setelah perang 12 hari di Juni 2025 silam.

Coba bayangkan. Baru malam pertama serangan, Israel sudah membunuh sembilan ilmuwan nuklir plus sejumlah kepala keamanan. Hari-hari berikutnya, lebih banyak lagi ilmuwan senior dan sedikitnya 30 komandan terkemuka tewas. Situasi itu membuat satu hal jadi jelas: Ayatollah Khamenei sendiri adalah target.

Konon, selama menghabiskan waktu di bunker khusus saat perang, Khamenei sudah menyusun daftar pengganti untuk posisi-posisi strategis. Tujuannya satu: mencegah kekosongan kekuasaan.

Bahkan sebelum pertikaian tahun lalu, kabarnya Khamenei sudah memerintahkan Majelis Ahli untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. Laporan dari the New York Times menyebut, dia telah memilih "tiga ulama senior" sebagai calon pengganti jika ia dibunuh.

Spekulasi tentang penerusnya pun berembus bertahun-tahun. Nama putra keduanya, Mojtaba Khamenei, kerap disebut sebagai salah satu sosok yang mungkin naik.

Masuk Mode Bertahan Hidup

Serangan AS dan Israel pada Sabtu (28/02) itu tak hanya merenggut nyawa Khamenei. Menurut laporan kantor berita resmi IRNA, Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohammad Pakpour dan sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani juga tewas.

Di sisi lain, orang-orang yang masih bertahan atau yang tiba-tiba harus naik jabatan berusaha menunjukkan bahwa mereka tetap memegang kendali. Proses suksesi, klaim mereka, akan berjalan mulus.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam sebuah pernyataan tegas mengatakan Teheran akan menggunakan "seluruh kemampuan pertahanan dan militernya" untuk membela diri dan menjaga keutuhan negara.

Bagi banyak analis, serangan terbaru ini telah mendorong struktur kekuasaan Iran masuk ke dalam "mode bertahan hidup."

"Ini adalah momen eksistensial bagi kepemimpinan Republik Islam," ujar Ellie Geranmayeh, peneliti senior di European Council on Foreign Relations (ECFR).

"Baik fondasi keamanan maupun ideologi Iran kini bersiap menghadapi perang berkepanjangan melawan Amerika Serikat dan Israel," sambungnya.

Menurut Geranmayeh, Teheran sekarang memandang "eskalasi maksimum" sebagai soal hidup-mati, bukan sekadar alat tawar-menawar.

Pendapat serupa datang dari H A Hellyer dari Royal United Services Institute (RUSI) di Inggris. Ia menilai respons cepat Iran "mencerminkan betapa seriusnya Teheran memandang ancaman ini."

"Kecepatan dan koordinasi yang terlihat menunjukkan adanya kewenangan yang sudah didelegasikan sebelumnya," jelasnya.

Geranmayeh punya analisis tentang tujuan serangan balasan Iran. Pertama, menunjukkan mereka menepati janji untuk memperluas perang ke tingkat regional. Kedua, menggunakan aset-aset mereka sebelum hilang ditelan konflik.

"Teheran ingin meningkatkan biaya yang harus ditanggung AS dan Israel secepat mungkin," katanya. Harapannya, tekanan itu memaksa kedua negara itu mundur sebelum rezim terancam dari dalam.

Sanam Vakil dari Chatham House melihatnya dengan cara yang mirip. Saat Republik Islam berjuang untuk kelangsungan hidupnya, "satu-satunya cara mereka bertahan adalah dengan segera mengekspor perang ini ke seluruh kawasan."

Konfrontasi Bisa Melebar dengan Cepat

Geranmayeh memperingatkan, sekutu regional Iran yang sering disebut Poros Perlawanan bisa ikut bergerak. Mereka khawatir bernasib sama. Hal ini meningkatkan risiko konflik meletus di banyak front secara bersamaan.

Semakin panjang dan meluas serangannya, semakin besar kemungkinan jaringan milisi regional itu diaktifkan. Danny Citrinowicz, peneliti senior urusan Iran di Institute for National Security Studies (INSS) Israel, mengonfirmasi hal ini.

"Memperluas baik wilayah maupun durasi konflik," ujarnya.

Menurutnya, AS dan Israel memilih menyerang sekarang karena berasumsi rezim Iran sedang lemah dan rapuh. Kedua sekutu itu yakin, kampanye besar-besaran bisa mengacaukan stabilitas Iran, bahkan mungkin memicu perubahan internal.

Tapi jika perkiraan itu meleset? Konsekuensinya bisa sangat serius.

"Apa yang bisa disebut sebagai kemenangan? Pertanyaan ini penting," kata Citrinowicz. Jalur diplomatik, saat ini, tampak suram.

"Ini konfrontasi 'hidup atau mati'. Tingkat risikonya jauh lebih besar dibanding perang 12 hari sebelumnya," tambahnya.

'Awal dari Perang yang Panjang'

Para analis sepakat, akhir dari pertempuran ini masih gelap dan sarat risiko.

"Ini bisa menjadi awal dari perang panjang baru bagi Amerika Serikat di Timur Tengah," ujar Geranmayeh.

Jalannya akan panjang dan penuh guncangan, katanya. Dan ada kemungkinan besar situasi memburuk dengan cepat.

Hellyer sependapat. Konflik ini kemungkinan akan berlanjut berhari-hari bahkan berminggu-minggu, dengan eskalasi terkoordinasi di berbagai front.

"Bahkan sekutu dekat AS, meski kritis terhadap Iran, kini menghadapi risiko serangan balasan," ujarnya. Mereka menolak eskalasi, meski jalan untuk meredakan ketegangan belum jelas.

Geranmayeh mendesak komunitas internasional untuk bergerak cepat. Beri tekanan kuat kepada Washington dan Teheran agar menemukan jalan diplomatik, "sebelum mereka terseret ke dalam kubangan konflik berdarah."

Kini, semua mata tertuju pada satu hal: siapa pengganti Khamenei. Apakah pergantian di puncak kekuasaan ini akan mengubah arah Republik Islam yang telah berusia 47 tahun? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar