Iran punya rencana. Menyusul wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, pemerintah mengumumkan bahwa Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Yudisial Gholamhossein Mohseni Ejei, dan seorang anggota Dewan Garda akan memegang kendali selama masa transisi ini.
Konstitusi negara itu jelas. Pengganti Khamenei harus dipilih oleh Majelis Ahli Kepemimpinan lembaga yang dulu memilihnya juga. Tapi, di tengah serangan Amerika Serikat dan Israel, menghimpun 88 ulama anggota majelis itu dengan cepat bukan perkara mudah. Soal keamanan jadi kendala utama.
Majelis Ahli sendiri, meski anggotanya dipilih rakyat setiap delapan tahun, pada praktiknya hanya diisi ulama yang loyal mutlak pada Republik Islam. Tak heran, mayoritasnya saat ini adalah ulama garis keras seperti almarhum Khamenei.
Menurut aturan, pemimpin baru harus dipilih secepatnya. Khamenei dulu terpilih di hari yang sama ketika Ayatollah Khomeini wafat pada 1989. Namun begitu, situasi sekarang jauh berbeda dan lebih berbahaya.
Untuk sementara, tugas-tugas Pemimpin Tertinggi itu diambil alih oleh trio tadi: presiden, ketua lembaga kehakiman, plus seorang ulama berpengaruh dari Dewan Garda.
Penerus Sudah Disiapkan, Bahkan Sebelumnya
Para pengamat sebenarnya sudah lama membaca situasi ini. Para ulama dan komandan paling berpengaruh di Iran telah bersiap menghadapi hari-hari seperti sekarang, seperti dilaporkan kepala koresponden internasional BBC, Lyse Doucet. Kesiapan itu makin menguat setelah perang 12 hari di Juni 2025 silam.
Coba bayangkan. Baru malam pertama serangan, Israel sudah membunuh sembilan ilmuwan nuklir plus sejumlah kepala keamanan. Hari-hari berikutnya, lebih banyak lagi ilmuwan senior dan sedikitnya 30 komandan terkemuka tewas. Situasi itu membuat satu hal jadi jelas: Ayatollah Khamenei sendiri adalah target.
Konon, selama menghabiskan waktu di bunker khusus saat perang, Khamenei sudah menyusun daftar pengganti untuk posisi-posisi strategis. Tujuannya satu: mencegah kekosongan kekuasaan.
Bahkan sebelum pertikaian tahun lalu, kabarnya Khamenei sudah memerintahkan Majelis Ahli untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. Laporan dari the New York Times menyebut, dia telah memilih "tiga ulama senior" sebagai calon pengganti jika ia dibunuh.
Spekulasi tentang penerusnya pun berembus bertahun-tahun. Nama putra keduanya, Mojtaba Khamenei, kerap disebut sebagai salah satu sosok yang mungkin naik.
Masuk Mode Bertahan Hidup
Serangan AS dan Israel pada Sabtu (28/02) itu tak hanya merenggut nyawa Khamenei. Menurut laporan kantor berita resmi IRNA, Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohammad Pakpour dan sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani juga tewas.
Di sisi lain, orang-orang yang masih bertahan atau yang tiba-tiba harus naik jabatan berusaha menunjukkan bahwa mereka tetap memegang kendali. Proses suksesi, klaim mereka, akan berjalan mulus.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam sebuah pernyataan tegas mengatakan Teheran akan menggunakan "seluruh kemampuan pertahanan dan militernya" untuk membela diri dan menjaga keutuhan negara.
Bagi banyak analis, serangan terbaru ini telah mendorong struktur kekuasaan Iran masuk ke dalam "mode bertahan hidup."
"Ini adalah momen eksistensial bagi kepemimpinan Republik Islam," ujar Ellie Geranmayeh, peneliti senior di European Council on Foreign Relations (ECFR).
"Baik fondasi keamanan maupun ideologi Iran kini bersiap menghadapi perang berkepanjangan melawan Amerika Serikat dan Israel," sambungnya.
Menurut Geranmayeh, Teheran sekarang memandang "eskalasi maksimum" sebagai soal hidup-mati, bukan sekadar alat tawar-menawar.
Pendapat serupa datang dari H A Hellyer dari Royal United Services Institute (RUSI) di Inggris. Ia menilai respons cepat Iran "mencerminkan betapa seriusnya Teheran memandang ancaman ini."
Artikel Terkait
Gubernur Kaltim Batalkan Pengadaan Mobil Dinas Rp8,49 Miliar Usai Dengar Aspirasi Publik
Israel Serang Beirut dan Target Hizbullah, Balas Serangan Rudal ke Wilayahnya
Ezra Walian Cetak 14 Kontribusi Gol, Performa Melonjak Pantik Peluang Kembali ke Timnas
AS Izinkan Staf Non-Darurat Tinggalkan Qatar Usai Serangan Iran