HARIAN, JAKARTA – Duel sengit di Riyadh Air Metropolitano, Kamis (30/04/2026) dini hari WIB, antara Atletico Madrid dan Arsenal harus berakhir dengan skor 1-1. Dua gol lahir dari titik putih. Sempat tertinggal, VAR lah yang akhirnya menyelamatkan tuan rumah dari kekalahan.
Babak pertama langsung panas. Kedua tim main dengan tempo tinggi. Arsenal punya ancaman di menit keenam lewat Noni Madueke, tapi belum berhasil. Setelah itu, tim tamu lebih banyak pegang bola. Atletico tertekan, sampai-sampai suporter mulai bersiul tak sabar.
Atletico coba keluar dari tekanan. Julian Alvarez nyaris bikin gol di menit ke-14, tapi tendangannya masih bisa ditepis David Raya. Arsenal balas dengan serangan balik cepat. Viktor Gyokeres jadi motor serangan, dia kasih umpan ke Martin Odegaard. Sayang, kapten Arsenal itu terlalu lama mengontrol bola, peluang pun hilang.
Menjelang turun minum, Arsenal dapat penalti. Gyokeres dijatuhkan David Hancko di kotak terlarang. Gyokeres sendiri yang maju sebagai eksekutor. Gol. 1-0 untuk Arsenal sampai jeda.
Di babak kedua, Atletico langsung naikkan intensitas. Mereka hampir menyamakan lewat situasi bola mati, tapi tendangannya melenceng tipis. Tekanan terus dilakukan. Akhirnya, VAR turun tangan. Ben White dianggap handball saat menghadang tembakan voli Marcos Llorente. Penalti untuk Atletico.
Julian Alvarez maju sebagai algojo. Dia sukses menjalankan tugasnya. Skor berubah 1-1. Setelah gol itu, Atletico makin pede. Antoine Griezmann dan Ademola Lookman beberapa kali bikin peluang, tapi belum ada gol tambahan.
Arsenal sebenarnya sempat dapat peluang emas. Mereka dapat penalti lagi setelah Hancko dianggap menjegal Eberechi Eze. Tapi, wasit menganulir keputusannya setelah lihat tayangan ulang. Menurut wasit, nggak ada pelanggaran yang jelas. Kontroversi? Mungkin. Tapi itulah sepak bola.
Statistik dan Susunan Pemain
Soal statistik, Atletico sedikit unggul. Penguasaan bola 52% berbanding 48%. Expected Goals (xG) mereka juga lebih tinggi, 2,22 berbanding 1,50. Atletico melepaskan 18 tembakan, 4 tepat sasaran. Arsenal cuma 11 tembakan, 2 tepat sasaran.
Atletico Madrid main dengan formasi 4-4-2. Jan Oblak di bawah mistar. Lini belakang: Marcos Llorente, Marc Pubill, David Hancko, Matteo Ruggeri. Lini tengah dan depan: Giuliano Simeone, Koke, Johnny Cardoso, Ademola Lookman, Antoine Griezmann, dan Julian Alvarez. Diego Simeone yang pegang kendali sebagai pelatih.
Arsenal pakai formasi 4-3-3. David Raya jadi kiper. Lini belakang: Ben White, William Saliba, Gabriel Magalhaes, Piero Hincapie. Lini tengah: Martin Odegaard, Martin Zubimendi, Declan Rice. Lini depan: Noni Madueke, Viktor Gyokeres, Gabriel Martinelli. Mikel Arteta yang bertanggung jawab sebagai pelatih.
Peluang di Leg Kedua
Skor 1-1 ini bikin leg kedua masih terbuka lebar. Atletico Madrid pasti akan manfaatkan keunggulan main di kandang buat tekan Arsenal. Di sisi lain, Arsenal berharap bisa maksimalkan peluang tandang mereka buat melangkah ke final.
Diego Simeone, pelatih Atletico, bilang kalau pertandingan ini menunjukkan karakter kuat timnya. Dia juga tekankan pentingnya tetap fokus di leg kedua.
“Kami tahu ini pertandingan berat, tapi hasil ini memberikan kami motivasi untuk terus berjuang di laga berikutnya,” jelasnya saat ditemui usai pertandingan.
Sementara itu, Mikel Arteta, pelatih Arsenal, menilai hasil ini cukup adil. Dia juga bilang timnya harus perbaiki beberapa hal biar bisa menang di leg kedua.
“Kami akan belajar dari pertandingan ini dan berusaha tampil lebih baik lagi di pertandingan berikutnya,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Atlético Madrid Imbang 1-1 Lawan Arsenal di Leg Pertama Semifinal Liga Champions
Arsenal Tahan Imbang Atletico Madrid di Leg Pertama Semifinal Liga Champions
Persib dan PSM di Persimpangan Jalan: Satu Kejar Gelar, Satu Bertahan Hidup
Irfan Jaya Cetak Gol Penentu Kemenangan Bali United, Pilih Tak Rayakan sebagai Bentuk Hormat ke PSM Makassar