Harapan serupa diungkapkan Aidiy, warga lain di desa yang sama. Berkat program itu pula, anak-anaknya kini punya kesempatan belajar dengan lebih nyaman. Tak perlu lagi khawatir atap bocor atau genangan air merembes ke dalam saat hujan mengguyur.
“Kalau hujan turun, air masuk ke dalam rumah. Anak-anak jadi tidak nyaman belajar,”
kata Aidiy menggambarkan kondisi lamanya.
Setelah perbaikan, suasana rumah pun berubah total. Atap yang kokoh dan ruangan yang kering membuat aktivitas keluarga kembali berjalan normal. Kekhawatiran itu pun perlahan menghilang.
Di sisi lain, program Pondasi sendiri merupakan bagian dari inisiatif perusahaan yang mereka sebut TAP untuk negeri. Tujuannya sederhana tapi berdampak besar: mendorong pertumbuhan berkelanjutan lewat kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar. Program yang dimulai sejak Juli 2025 ini berjalan secara bertahap. Dari target 303 rumah, sudah 189 unit yang berhasil diperbaiki. Wilayahnya mencakup Jambi, Kalimantan Timur, dan tentu saja Kalimantan Tengah.
Pelaksanaannya pun tak dilakukan sendirian. Kolaborasi dengan pemangku kebijakan dan pemerintah desa setempat menjadi kunci, agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan menyentuh yang paling membutuhkan.
Memang, persoalan hunian layak di banyak daerah kerap jadi tantangan tersembunyi. Padahal, rumah yang aman dan sehat adalah fondasi dasar. Dari sanalah sebuah keluarga bisa membangun kehidupan yang lebih produktif, dan tentu saja, lebih bermartabat.
Artikel Terkait
Laba Bersih Astra 2025 Turun Tipis 3%, Jasa Keuangan Jadi Penyelamat
Laba Bersih ITMG Anjlok 49% di Tengah Pelemahan Harga Batu Bara
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 3,085 Juta per Gram Awal Maret
BGN Klarifikasi Insentif Rp6 Juta per Hari untuk Dapur MBG: Skema Efisien, Risiko Ditanggung Mitra