BOPPJ, yang diawasi oleh Kemenko Infrastruktur, juga menggandeng pakar dari universitas dan lingkungan untuk mengkaji akar masalah abrasi di pesisir. Kolaborasi ini dianggap krusial.
Master Plan yang Masih Dikaji
Saat ini, fokusnya adalah menyelesaikan master plan. Kajian bersama para ahli sedang digodok untuk kemudian dituangkan dalam naskah akademik. Naskah inilah yang akan jadi landasan eksekusi proyek nantinya.
Tak cuma mengandalkan ahli lokal, pengetahuan dari luar negeri juga dilibatkan. Sebab, kematangan kajian akademik diyakini bakal menentukan sukses tidaknya proyek kolosal ini.
“Bukan hanya 17 sampai 20 juta jiwa penduduk yang harus kami lindungi,” tegas Didit. “Tetapi juga seluruh aset nasional di Pantura Jawa yang nilainya kurang lebih mencapai 368 miliar dolar.”
Jawaban untuk Masalah Pesisir
Di sisi lain, tekanan untuk segera bertindak sangat besar. Arahan presiden jelas: segera tanggulangi penurunan tanah dan banjir rob. GSW diharapkan menjadi solusi multifungsi.
Didit membeberkan, tanggul ini dirancang untuk mengatasi sederet masalah sekaligus: dari banjir rob, degradasi lingkungan, penurunan muka tanah, hingga banjir biasa yang diperparah karena minimnya daerah resapan.
Inspirasinya datang dari negara-negara yang sudah berpengalaman. “Contohnya Belanda,” kata Didit. “Yang sudah lebih dari 135 tahun membangun dam dan hidup di bawah permukaan laut sekitar 5 hingga 11 meter.”
Pelajaran dari mereka akan diadopsi, tentu dengan penyesuaian kondisi lokal. Pelaksanaannya nanti akan melibatkan para ahli, baik dalam maupun luar negeri, untuk memastikan hasil yang maksimal dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Salim Ivomas (SIMP) Catat Laba Bersih Rp2,07 Triliun, Tumbuh 33% di 2025
OJK Jatuhkan Denda Rp3,4 Miliar dan Bekukan Izin KGI Sekuritas Terkait IPO Bermasalah
Matahari Department Store Bagikan Dividen Rp564 Miliar Meski Laba Turun
Pertamina Naikkan Harga BBM Non-Subsidi Mulai Hari Ini