Setelah berjam-jam spekulasi yang mencekam, Teheran akhirnya buka suara. Iran mengonfirmasi kabar yang mengguncang dunia: Pemimpin Tertinggi mereka, Ali Khamenei, tewas.
Pernyataan resmi itu disiarkan oleh stasiun penyiaran negara IRIB, seperti dilaporkan CNN Internasional pada Minggu (1/3/2026). Isinya singkat namun penuh makna: "Pemimpin Tertinggi Iran telah mencapai syahid." Hanya satu kalimat yang mengubah segalanya.
Konfirmasi serupa juga datang dari kantor berita dalam negeri Iran, Tasnim dan Fars, seperti diberitakan Al Jazeera. Mereka menyebut kematian Khamenei adalah hasil dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di wilayah Iran.
Serangan itu sendiri terjadi lebih awal, tepatnya pada Sabtu (28/2). Dari luar, AS dan Israel sudah lebih dulu menyatakan bahwa Khamenei menjadi target dan tidak selamat.
"Pagi ini, dalam serangan mendadak yang dahsyat, kompleks kediaman diktator Ali Khamenei hancur di jantung Teheran,"
Demikian pernyataan keras Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang disiarkan televisi dan dilansir AFP. Ia menggambarkan sebuah operasi militer masif: sekitar 30 bom dijatuhkan pasukan gabungan ke kompleks kediaman sang pemimpin.
Netanyahu tak ragu. "Banyak tanda yang menunjukkan Khamenei telah tewas," ujarnya. Dalam pidatonya, dia melontarkan tuduhan panjang tentang peran Khamenei selama puluhan tahun.
"Selama lebih dari tiga setengah dekade, diktator kejam ini telah menyebarkan teror di seluruh dunia sambil menindas rakyatnya sendiri, sambil bekerja tanpa lelah dan tanpa henti pada rencana untuk menghancurkan Israel,"
Lalu dia menyambung, dengan nada penuh keyakinan,
"Rencana itu sudah tidak ada lagi -- dan ada banyak tanda bahwa diktator ini sudah tidak hidup lagi."
Di sisi lain, dari Washington, Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan konfirmasinya. Kabar itu dia sampaikan lewat Social Truth, platform media miliknya sendiri.
"Khameini, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati,"
Begitu kira-kira pernyataan Trump yang dilansir AFP. Dua pemimpin yang sering berselisih itu, untuk sekali ini, menyuarakan hal yang sama: sebuah akhir dramatis bagi salah satu tokoh paling berpengaruh di Timur Tengah.
Artikel Terkait
Dewas KPK Terima Laporan Masyarakat Soal Tahanan Rumah Yaqut Cholil Qoumas
Keluarga Korban Kebakaran PT Terra Drone Keberatan Hadir dan Bersaksi di Persidangan
Tarif Kereta NJ Transit Melonjak Delapan Kali Lipat Saat Piala Dunia 2026 di MetLife
PT Metro Timur Indonusa Suntik Dana US$1 Juta untuk Kembangkan AI Pendukung Bisnis Kreator