Wall Street ditutup dengan catatan merah yang dalam pada Selasa kemarin. Investor tampaknya sedang dilanda kecemasan, terutama menyambut laporan kuartalan dari raksasa teknologi seperti Alphabet dan Amazon yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan. Tapi rupanya, ada kekhawatiran yang lebih mendasar yang menggerogoti sentimen: persaingan sengit di dunia perangkat lunak yang dipicu oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan.
Indeks Nasdaq, yang jadi barometer saham teknologi, terjungkal paling dalam dengan penurunan 1,43 persen ke level 23.255,19. S&P 500 tak ketinggalan, terkoreksi 0,84 persen. Sementara Dow Jones relatif lebih tahan, meski tetap merosot 0,34 persen.
Rasanya, sentimen negatif itu menyapu hampir semua nama besar. Nvidia dan Microsoft sama-sama terpangkas hampir 3 persen. Alphabet, yang laporannya dinanti Rabu, turun 1,2 persen. Amazon pun melemah 1,8 persen jelang pengumuman pada Kamis.
Menurut sejumlah analis, pasar mulai sadar bahwa AI bukan cuma peluang, tapi juga ancaman. Kemajuan teknologi ini berpotensi menggerus margin keuntungan perusahaan-perangkat lunak yang sudah mapan. Kekhawatiran itu makin nyata setelah Anthropic meluncurkan fitur baru untuk chatbot Claude AI-nya.
Art Hogan dari B. Riley Wealth melihat pola ini dengan jelas.
Artikel Terkait
Emas dan Perak Bangkit Lagi, Investor Buru Harga Murah Setelah Koreksi Tajam
Wall Street Lesu, Saham Teknologi Tertekan: Apakah AI Jadi Bumerang?
Demutualisasi BEI: Pintu Terbuka untuk Investor Asing, tapi dengan Aturan Ketat
Analis Soroti Peluang IHSG Tembus 8.500, Tapi Waspadai Zona Koreksi Ini