"Banyak perusahaan perangkat lunak di berbagai spektrum terkena dampak karena dianggap sebagai sektor yang akan terdisrupsi oleh kemajuan AI," ujarnya.
Beberapa saham bahkan mengalami pukulan yang jauh lebih telak. PayPal, misalnya, anjlok 20 persen setelah proyeksi labanya untuk 2026 mengecewakan pasar. Di sektor kesehatan, Novo Nordisk juga terpuruk hampir 15 persen karena peringatan perusahaan soal penjualan produk Wegovy yang bisa melorot.
Tapi di tengah lautan merah itu, ada sedikit cahaya. Walmart justru mencatat sejarah. Sahamnya naik 3 persen, mengantarkan peritel legendaris itu menjadi toko fisik pertama yang kapitalisasi pasarnya menembus angka US$ 1 triliun. Kisah sukses lain datang dari Palantir, yang sahamnya melonjak 7 persen berkat kinerja kuartalan yang di luar perkiraan.
Semua gejolak di pasar saham ini terjadi dalam suasana politik yang tak kalah mencemaskan. Ancaman government shutdown atau penutupan sebagian pemerintahan AS menambah ketidakpastian. Meski upaya penyelesaian sudah mulai bergulir di DPR, dampaknya langsung terasa: rilis data ketenagakerjaan penting yang sedianya keluar pekan ini terpaksa ditunda. Situasi yang bikin para pelaku pasar makin waspada dan menahan napas.
Artikel Terkait
Harga CPO Menguat Pekan Ketiga, Didukung Konflik Timur Tengah dan Harga Energi
Saham Energi Boy Thohir Jadi Penopang Pasar di Tengah Pelemahan IHSG
Menkeu Purbaya Bicara Beban Jabatan dan Rencana Bantu Pedagang Terbelit Utang
Bitcoin Koreksi 7% Usai The Fed Pertahankan Suku Bunga dan Revisi Proyeksi Inflasi