Sepucuk Surat untuk Mama Reti: Kisah Pilu Bocah SD di Ngada yang Tak Sempat Beli Buku Tulis

- Rabu, 04 Februari 2026 | 08:50 WIB
Sepucuk Surat untuk Mama Reti: Kisah Pilu Bocah SD di Ngada yang Tak Sempat Beli Buku Tulis

Sebuah kabar duka datang dari Ngada, NTT. YBR, seorang siswa kelas IV SD, ditemukan tewas gantung diri. Kisahnya, yang terungkap lewat sepucuk surat untuk ibunya, menyisakan duka dan pertanyaan mendalam bagi banyak orang.

Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, menyebut tragedi ini sebagai alarm keras. "Kasus anak SD di NTT ini sangat memilukan," ujarnya kepada wartawan, Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, peristiwa ini harus jadi peringatan bagi negara. Pemerintah dianggap wajib memastikan tak ada anak di Indonesia yang terbebani oleh kemiskinan, apalagi sampai mengorbankan pendidikan dan nyawa.

"Jika benar ada motif ekonomi, bahkan sampai anak tak mampu membeli buku tulis, itu menunjukkan negara belum sepenuhnya hadir," tegas Lalu Hadrian.

Ia mendorong penguatan jaring pengaman sosial di sekolah. Di sisi lain, ia juga menekankan peran keluarga dan lingkungan.

"Orang tua, keluarga, dan lingkungan terdekat harus lebih peka terhadap kondisi mental anak. Jangan anggap remeh keluhan kecil," imbuhnya.

Pesan terakhirnya jelas: "Jangan biarkan anak-anak memikul beban hidup sendirian."

Surat Perpisahan yang Menyayat

Polisi menemukan surat tulisan tangan saat mengevakuasi jenazah. Surat itu ditulis YBR dalam bahasa daerah Bajawa, berisi ungkapan perpisahan sekaligus kekecewaan.

Isinya singkat namun mengharukan:

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo Mama (Selamat tinggal mama)

Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan keaslian surat tersebut. Namun, apa yang sebenarnya memicu kekecewaan mendalam YBR masih diselidiki.

Meski begitu, keterangan dari lapangan mulai mengarah pada satu titik. Menurut sejumlah saksi, malam sebelum kejadian, YBR menginap di rumah ibunya. Ia meminta uang untuk membeli buku tulis dan pulpen.

Sayangnya, permintaan itu tak bisa dipenuhi.

Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, mengonfirmasi hal ini. "Menurut pengakuan ibunya, permintaan itu korban minta sebelum meninggal," ungkap Dion, Selasa (3/2).

Dion menjelaskan, kondisi ekonomi keluarga memang sulit. YBR sendiri sehari-hari tinggal bersama neneknya di desa tetangga. Malam itu, ia datang dengan harapan yang akhirnya pupus.

Sebuah permintaan sederhana yang berakhir tragis. Kini, surat itu menjadi saksi bisu beban yang dipikul seorang anak berusia sepuluh tahun.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar