Kelompok makanan, minuman, dan tembakau anjlok 1,03 persen secara bulanan. Sektor transportasi juga ikut turun 0,46 persen. Bahkan komponen harga bergejolak, yang sering bikin pusing, catat deflasi cukup dalam: 1,96 persen. Ini jelas sinyal bahwa tekanan dari sisi pangan mulai mereda.
Namun begitu, ceritanya berbeda untuk inflasi inti. Di sini justru ada kenaikan. Inflasi inti Januari naik 0,37 persen secara bulanan, lebih tinggi dari Desember yang cuma 0,20 persen. Lagi-lagi, emas jadi biang keroknya. Ketidakpastian global mendorong investor berburu logam mulia ini.
Secara tahunan, inflasi inti berada di level 2,45 persen angka yang menurut banyak pengamat menunjukkan permintaan domestik kita masih lumayan stabil. Sementara itu, harga-harga yang diatur pemerintah justru mengalami deflasi ringan, 0,32 persen.
Bank Mandiri sendiri menilai, secara keseluruhan inflasi di awal tahun ini masih aman. Kuncinya ada di pasokan pangan yang kuat. Tapi mereka juga mengingatkan, risiko kenaikan bisa mengintai di paruh kedua 2026, saat faktor permintaan diperkirakan akan lebih dominan.
Faktor eksternal seperti gejolak nilai tukar rupiah tentu berpotensi menambah tekanan pada harga barang impor. Tapi dampaknya diperkirakan terbatas, asalkan stabilisasi dari Bank Indonesia berjalan efektif. Dengan inflasi yang masih dalam koridor target, ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter pun terbuka.
Prediksi akhir mereka? Inflasi pada penutupan tahun 2026 akan berada di sekitar 2,78 persen. Angka yang, jika tercapai, justru lebih rendah dari realisasi inflasi sepanjang 2025 lalu.
Artikel Terkait
Menteri Perindustrian Pacu Industri Keramik Naik Kelas, Gangguan Baku dari Jabar Jadi Tantangan
Slovakia Tawarkan Ilmu Nuklir 60 Tahun, Indonesia Balas dengan Undangan Investasi
IHSG Melesat 1,62%, OJK Anggap Sinyal Kembalinya Kepercayaan Investor
Jeffrey Hendrik Resmi Pimpin BEI, Gantikan Iman Rachman