Kekhawatiran semacam itulah yang, dalam setahun terakhir, ikut mendongkrak harga emas dan melemahkan dolar AS.
Stephen Innes dari SPI Asset Management memberi peringatan keras.
Pernyataannya menyoroti betapa krusial peran Ketua The Fed. Kebijakan suku bunga yang mereka tentukan tak hanya berdampak pada ekonomi AS, tapi juga menggoyang pasar global. Tujuannya selalu rumit: menjaga lapangan kerja tetap kuat tanpa membiarkan inflasi meroket.
Laporan inflasi grosir AS yang dirilis Jumat lalu justru memperkeruh suasana. Angkanya lebih tinggi dari perkiraan ekonom. Data ini bisa memaksa The Fed untuk menahan suku bunga tetap stabil bahkan mungkin lebih lama alih-alih menurunkannya seperti akhir tahun lalu.
Asumsi dasarnya sederhana: The Fed harus bisa bekerja secara independen dari tekanan politik Washington. Hanya dengan begitu mereka bisa mengambil keputusan jangka panjang yang tepat, meski terasa pahit untuk sementara. Misalnya, mempertahankan suku bunga tinggi guna meredam inflasi hingga ke target 2%, sekalipun itu berarti memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Pekan ini, semua mata tertuju pada bagaimana pasar menavigasi campuran antara laporan perusahaan, data ekonomi, dan ketegangan politik yang mengintai.
Artikel Terkait
Pandu Sjahrir Soroti Transisi Pasar Modal Usai Diskusi dengan MSCI
DGWG Cetak Rekor Penjualan, Pupuk dan Pestisida Melonjak di Akhir 2025
Prabowo Gagas Gentengisasi Nasional, Ganti Atap Seng dengan Tanah Liat
Demutualisasi BEI Mandek, OJK Masih Menunggu Payung Hukum dari Pemerintah