Sebelumnya, Pandu sudah mengingatkan soal koreksi yang terjadi. Saham-saham yang anjlok belakangan ini umumnya adalah emiten yang harganya sebelumnya melambung terlalu tinggi. Valuasinya meroket, tapi fundamentalnya di tempat. Alhasil, saham-saham itu masuk kategori "uninvestable".
"Memang banyak (investor) ritel melihat ini banyak saham-saham yang kemarin saya bilang uninvestability atau saham-saham yang memang dengan valuasi yang sangat tinggi mengalami koreksi," paparnya.
Kini, trennya berubah. Investor baik ritel maupun institusi tengah memburu saham dengan fundamental kokoh. Itu terlihat dari kinerja saham blue chip seperti AADI dan BBCA yang masih mencetak penguatan di tengah pelemahan indeks.
"Jadi banyak sekali kalau dilihat observasi awal dari sisi ritel melihat saham-saham yang memiliki valuasi yang mungkin amat tinggi atau bahasanya uninvestable itu yang mengalami koreksi, mungkin akan mengalami koreksi alam," jelasnya.
Dengan melihat fakta-fakta itu, Pandu menilai koreksi di IHSG dan saham-saham konglomerat tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Dia menyebut momen ini sebagai bagian dari transisi menuju pasar yang lebih matang. Ada sejumlah agenda transformasi yang sudah disiapkan, tinggal eksekusi.
"Jadi saya sih melihatnya sesuatu yang enggak perlu dikhawatirkan, ya kita harus melihat balik ke fundamental, juga untuk pemikiran buat teman-teman, jangan hanya melihat short term (jangka pendek)," pungkas Pandu memberi nasihat.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak