Sebelumnya, Pandu sudah mengingatkan soal koreksi yang terjadi. Saham-saham yang anjlok belakangan ini umumnya adalah emiten yang harganya sebelumnya melambung terlalu tinggi. Valuasinya meroket, tapi fundamentalnya di tempat. Alhasil, saham-saham itu masuk kategori "uninvestable".
"Memang banyak (investor) ritel melihat ini banyak saham-saham yang kemarin saya bilang uninvestability atau saham-saham yang memang dengan valuasi yang sangat tinggi mengalami koreksi," paparnya.
Kini, trennya berubah. Investor baik ritel maupun institusi tengah memburu saham dengan fundamental kokoh. Itu terlihat dari kinerja saham blue chip seperti AADI dan BBCA yang masih mencetak penguatan di tengah pelemahan indeks.
"Jadi banyak sekali kalau dilihat observasi awal dari sisi ritel melihat saham-saham yang memiliki valuasi yang mungkin amat tinggi atau bahasanya uninvestable itu yang mengalami koreksi, mungkin akan mengalami koreksi alam," jelasnya.
Dengan melihat fakta-fakta itu, Pandu menilai koreksi di IHSG dan saham-saham konglomerat tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Dia menyebut momen ini sebagai bagian dari transisi menuju pasar yang lebih matang. Ada sejumlah agenda transformasi yang sudah disiapkan, tinggal eksekusi.
"Jadi saya sih melihatnya sesuatu yang enggak perlu dikhawatirkan, ya kita harus melihat balik ke fundamental, juga untuk pemikiran buat teman-teman, jangan hanya melihat short term (jangka pendek)," pungkas Pandu memberi nasihat.
Artikel Terkait
Wall Street Lesu, Emas Bangkit, dan Bayang-Bayang Politik Mengintai The Fed
DGWG Cetak Rekor Penjualan, Pupuk dan Pestisida Melonjak di Akhir 2025
Prabowo Gagas Gentengisasi Nasional, Ganti Atap Seng dengan Tanah Liat
Demutualisasi BEI Mandek, OJK Masih Menunggu Payung Hukum dari Pemerintah