Wall Street memulai pekan dengan nada suram. Indeks utama pasar saham AS tercatat melemah pada pembukaan Senin (2/2/2026), terdorong oleh aksi jual besar-besaran yang menyasar logam mulia di awal sesi.
Dow Jones sempat terpangkas 52,74 poin (0,14%) ke 48.849,03. Sementara itu, S&P 500 turun 0,22% dan Nasdaq Composite bahkan kehilangan hampir 0,4%. Tekanan jual ini tak lepas dari performa buruk saham-saham teknologi besar, dengan Nvidia raksasa chip AI ikut menyeret pasar ke zona merah.
Di sisi lain, pasar komoditas bergolak. Minyak sempat ambruk lebih dari 5% dalam satu malam. Emas dan perak, yang sebelumnya meroket lalu terjun bebas di hari Jumat, berusaha bangkit. Meski pulih sebagian, keduanya masih jauh dari level tertinggi baru-baru ini. Harga emas naik 1,3% mendekati USD4.800 per ons, sedangkan perak melonjak 5,9%.
Perdagangan pekan ini juga akan diwarnai oleh serangkaian laporan pendapatan perusahaan. Tak hanya itu, tiga data penting pemerintah soal pasar tenaga kerja termasuk laporan pekerjaan Januari yang dirilis Jumat akan menjadi sorotan.
Ada sedikit cahaya dari Walt Disney Co. Saham raksasa hiburan itu menguat tipis setelah mengumumkan hasil kuartal pertama yang solid. Film-film seperti "Zootopia 2" dan "Avatar: Fire and Ash" menjadi penyokong utama. Pendapatan divisi Entertainment mereka naik 7%, sementara bagian experiences (taman hiburan) tumbuh 6%.
Namun begitu, sentimen pasar masih dibayangi isu politik. Investor terus mempertimbangkan dampak pencalonan Kevin Warsh, calon Ketua Federal Reserve pilihan Presiden Donald Trump. Pasar khawatir, pencalonan ini bisa mengikis independensi The Fed. Trump sendiri dikenal vokal mendorong penurunan suku bunga yang lebih agresif.
Kekhawatiran semacam itulah yang, dalam setahun terakhir, ikut mendongkrak harga emas dan melemahkan dolar AS.
Stephen Innes dari SPI Asset Management memberi peringatan keras.
“Orang-orang tidak diberikan kunci bank sentral terkuat di dunia karena mereka berencana untuk mengemudi ke arah yang berlawanan dengan orang-orang yang memberikan kunci tersebut kepada mereka,” ujarnya.
Pernyataannya menyoroti betapa krusial peran Ketua The Fed. Kebijakan suku bunga yang mereka tentukan tak hanya berdampak pada ekonomi AS, tapi juga menggoyang pasar global. Tujuannya selalu rumit: menjaga lapangan kerja tetap kuat tanpa membiarkan inflasi meroket.
Laporan inflasi grosir AS yang dirilis Jumat lalu justru memperkeruh suasana. Angkanya lebih tinggi dari perkiraan ekonom. Data ini bisa memaksa The Fed untuk menahan suku bunga tetap stabil bahkan mungkin lebih lama alih-alih menurunkannya seperti akhir tahun lalu.
Asumsi dasarnya sederhana: The Fed harus bisa bekerja secara independen dari tekanan politik Washington. Hanya dengan begitu mereka bisa mengambil keputusan jangka panjang yang tepat, meski terasa pahit untuk sementara. Misalnya, mempertahankan suku bunga tinggi guna meredam inflasi hingga ke target 2%, sekalipun itu berarti memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Pekan ini, semua mata tertuju pada bagaimana pasar menavigasi campuran antara laporan perusahaan, data ekonomi, dan ketegangan politik yang mengintai.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020