Rapat pimpinan Badan Pengkajian MPR RI pekan lalu akhirnya memetakan agenda strategis untuk tahun 2026. Intinya, mereka bakal melanjutkan lima topik utama kajian ketatanegaraan yang sudah digarap sebelumnya. Tapi, ada juga program baru yang cukup menarik perhatian, namanya "Gema Konstitusi", yang sengaja menyasar kalangan kampus.
Ketua BP MPR, Yasonna Laoly, membeberkan hal ini usai memimpin rapat di Ruang Samithi III, Gedung Nusantara V, Senayan. Rapat yang digelar Senin (26/1) itu intinya buat menggodok program kerja setahun ke depan.
"Topiknya tetap seperti tahun lalu, antara lain tentang demokrasi dan kedaulatan rakyat, penguatan kelembagaan, otonomi daerah, serta pemerintahan daerah," kata Yasonna, dalam keterangannya, Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, topik-topik itu masih relevan dan dulu sempat memantik diskusi yang cukup mencerahkan di antara para pakar.
Namun begitu, pembahasan tak cuma berhenti di situ. Mereka juga akan menyentuh isu-isu yang lagi panas, mulai dari Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) sampai bagaimana merespons berbagai putusan Mahkamah Konstitusi belakangan ini.
"Apakah kita harus menyikapi hal tersebut dengan perubahan UUD? Dan dinamika lainnya," ujar Yasonna.
Metode kajiannya pun tak jauh beda. "Semua itu kita susun, dibahas serta dikaji salah satunya dengan metode Forum Group Discussion (FGD) seperti tahun lalu," sambungnya.
Nah, soal program baru, "Gema Konstitusi" ini rencananya berupa lomba debat untuk mahasiswa se-Indonesia. Yasonna menekankan, ini beda dengan kegiatan sosialisasi biasa yang selama ini dijalankan Badan Sosialisasi MPR.
"Kalau Badan Sosialisasi ada lomba cerdas cermat untuk pelajar, ini dari Badan Pengkajian MPR bentuknya debat konstitusi untuk mahasiswa," jelasnya.
Artikel Terkait
KPK Periksa Mantan Kepala Balai Teknik Perkeretaapian, Kasus DJJA Kian Melebar
Noel Buka Suara: Ada Partai Berhuruf K di Balik Kasus Sertifikasi K3
Ahok Buka Suara Soal Dugaan Pelanggaran Ekspor-Impor Minyak di Pertamina
Saan Mustopa Santai Tanggapi Eksodus Kader NasDem ke PSI