BCA Pacu Target Kredit 2026, Optimisme Tumbuh Dua Digit Mengintai

- Selasa, 27 Januari 2026 | 19:00 WIB
BCA Pacu Target Kredit 2026, Optimisme Tumbuh Dua Digit Mengintai

Di tengah situasi global yang masih gamang, BCA justru memandang tahun ini dengan optimisme yang cukup tinggi. Bank terbesar di Indonesia itu baru saja mengumumkan target pertumbuhan kredit untuk 2026 di kisaran 8 hingga 10 persen. Angka ini naik dari realisasi tahun lalu, dan salah satu pendorong utamanya adalah derasnya program-program pemerintah yang diharapkan bisa memacu roda ekonomi.

Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, bahkan punya harapan yang lebih besar untuk industri perbankan secara nasional. Menurutnya, potensi untuk tumbuh dua digit sebenarnya ada.

"Saya melihat potensi di dua digit ada, dengan begitu banyak program pemerintah yang berjalan, semoga kita di perbankan bisa berusaha mencapai double digit tahun 2026 ini," ungkap Hendra dalam konferensi pers, Selasa (27/1).

Memang, ketidakpastian geopolitik dunia masih bikin banyak perusahaan berpikir dua kali untuk ekspansi. Tapi Hendra melihat ada angin segar dari investasi asing yang terus mengalir, khususnya dari China. Investor dari negeri Tirai Bambu itu seringkali bermitra dengan nasabah BCA yang sudah ada.

"Kita lihat investasi dari luar negeri, terutama dari China masih cukup banyak yang masuk dan biasanya mereka partner dengan nasabah-nasabah kita. Ini semoga juga akan membantu pertumbuhan ekonomi dan juga kredit di perbankan," tuturnya lagi.

Sementara itu, dari sisi panduan operasional, Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim memberikan rincian yang lebih teknis. Rencana Bisnis Bank tahun ini memang mengusung target penyaluran kredit 8-10 persen.

"Kita upgrade guidance kita untuk pertumbuhan kredit menjadi 8 persen sampai 10 persen. Kita lebih positif melihat perkembangan tahun ini, mudah-mudahan pertumbuhan kredit ini bisa lebih cepat dibanding tahun lalu, dari kuartal I dan seterusnya," jelas Vera.

Namun begitu, ada sedikit tekanan yang diantisipasi. Bank memperkirakan Net Interest Margin atau NIM akan sedikit merosot ke level 5,4-5,6 persen, turun dari 5,7 persen di 2025. Penyebabnya tak lain adalah aksi agresif BI yang memangkas suku bunga acuan tahun lalu.

"Kita perkirakan dengan penurunan bunga BI dari tahun lalu, dampaknya akan terasa di tahun ini. Sehingga guidance kita untuk NIM di tahun ini di kisaran 5,4 sampai 5,6 persen. Jadi menurun NIM-nya, memang kita ekspektasi dampaknya akan lebih terasa tahun ini," ungkap Vera.

Di sisi lain, soal kualitas kredit, BCA tampaknya tak terlalu khawatir. Mereka menargetkan rasio kredit macet atau NPL tahun ini stabil, tak jauh dari kisaran 1,8-2 persen seperti tahun sebelumnya.

Optimisme ini punya dasar. Sepanjang 2025, kinerja BCA memang cukup moncer. Laba bersihnya membukukan kenaikan 4,9 persen menjadi Rp 57,5 triliun. Penyaluran kreditnya tumbuh 7,7 persen menjadi hampir Rp 1.000 triliun, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan yang bahkan mencapai 10,8 persen.

Kredit itu tersebar di berbagai sektor vital: mulai dari manufaktur, perdagangan, hingga perhotelan dan rumah tangga. Yang menggembirakan, kualitasnya tetap terjaga. Rasio loan at risk membaik jadi 4,8 persen, sementara NPL bertengger di level aman 1,7 persen. Pencadangan untuk risiko kredit pun dinilai lebih dari cukup.

Jadi, meski margin diprediksi tertekan, BCA yakin momentum pertumbuhan masih bisa ditangkap. Semuanya tergantung pada bagaimana program pemerintah dan investasi asing benar-benar bisa mendorong permintaan kredit di lapangan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar